Senin, 30 November 2015

Menulis: Babak baru dalam Budaya Masyarakat




"Jika Kamu bukan seorang Kaya, bukan juga seorang Bangsawan maka menulislah, maka dunia akan mengenang Namamu (Imam Syafi'i).

Di era teknologi yang berkembang pesat dengan kehadiran ponsel pintar (gawai) yang kian hari semakin marak ragamnya, bisa dikatakan sebagai pendobrak yang menjadikan masyarakat kita sebagai masyarakat pembaca. Bayangkan di setiap momen kita melihat sebagian besar orang akan berkutat dengan ponsel pintarnya, entah itu membaca berita, atau sekedar membaca pesan atau membaca kabar berita di facebook. Bahkan ketika berkumpul bersama kawan-kawan yang seharusnya menjadikan kita untuk akrab mengobrol bersama mereka, kadang kita hanya sibuk sendiri membaca di ponsel pintar.

Ketika masyarakat kita yang telah gandrung membaca, maka sudah seharusnya juga menjadi masyarakat penulis sebagai penuangan dari isi bacaan yang telah diserap. Penyaluran minat menulis saat ini tidak terlalu susah untuk mendapatkan pembacanya. Media-media warga yang berbasis Online dengan kemudahan yang disajikan menjadi pilihan untuk publikasi tulisan. Budaya menulis saat ini sedang mengalami geliat di masyarakat kita terbukti dengan intensitas pengguna facebook update status yang berisi ungkapan hati, catatan perjalanan, kritik, tak jarang berbagi inspirasi atas apa yang telah mereka alami.
Jika kita menilik ke belakang beberapa puluh tahun lalu sebelum media Online bertebaran seperti saat ini, budaya menulis juga pernah menjadi trend dan mampu menghasilkan karya-karya besar melalui buku saku yang dikenal dengan "Diary". Sebut saja catatan perjalanan Nugroho Notosusanto ketika menjadi bagian dari tentara pelajar untuk perjuangan kemerdekaan, catatan tersebut menjadi buku kumpulan Cerpen yang berisi sejarah dan menginformasikan kepada pembaca bagaimana gerak perjuangan para pahlawan kita. Begitu pula dengan catatan perjalanan Agustinus Wibowo yang dibukukan menjadi Novel "Titik Nol" dan "Selimut Debu".

Selain itu budaya menulis masyarakat penuntut ilmu di waktu dulu juga sangat menarik untuk membaca diary mereka. Secara tidak sengaja ketika sedang mencari arsip untuk akte kelahiran di tumpukan buku-buku yang bahkan sebagian besarnya termakan rayap, saya menemukan Buku bersampul plastik yang tampak kusam, lembaran-lembaran di dalamnya pun hampir berubah warna. Dari lembar pertama tertulis nama pemiliknya disertai tanda tangan, ternyata itu buku harian Almarhum Bapak yang tertumpuk di antara buku-buku lama tersebut. Lalu pada lembar kedua berisi catatan beliau ketika mengikuti pengajian sewaktu di Pesantren dengan sistim Hauqalah (bersila). Tertulis tanggal 7 Maret 1961 di salah satu Mushalla yang disebut Al Abror, pada catatan tersebut beliau menulis poin-poin isi pengajian pada hari itu serta di akhirnya dibubuhkan Mahfuzhat (kata mutiara) yang menjadi penutup pengajian. Lembar demi lembar pada buku harian tersebut seakan bercerita bagaimana beliau menjadikan buku harian tersebut sebagai pengikat Ilmu yang telah didapatkan dari gurunya.

Salah satu mahfuzhat yang cukup berkesan saya baca pada buku harian tersebut yang kira-kira terjemahannya " Ilmu ibarat binatang buruan, maka ikatlah binatang buruanmu dengan kuat, yaitu dengan Tulisan". Karena dengan menulislah buku harian 50 tahun lalu masih bisa saya baca pada saat ini, isi tulisan itu pun sangat bermanfaat, tentang hukum-hukum fiqh disertai dalil yang kuat yang dirangkum oleh beliau. Tradisi tersebut terus berlanjut juga di antara saudara-saudara saya yang mendapatkan didikan di pesantren dengan sistim hauqalah ( salah satunya Mahad Darul Qur'an Wal Hadits), buku catatan harian mereka masih tersimpan, bentuk catatan tersebut persis seperti yang terdapat pada diary Almarhum Bapak. Dari segi isinya catatan harian saudara-saudara saya lebih update dengan kondisi zamannya ketika mengikuti pengajian tersebut, namun ketika membahas tentang hukum, dalilnya pun tetap sama.

Budaya menulis juga pernah menjadi penyumbang terbesar sebagai media inspirasi dalam berkarya. Buku-buku terbitan tahun 90-an sampai 2004 banyak kita temukan di sampul depannya tertulis "Milik Negara Tidak Diperjual Belikan", atau di dalamnya juga terdapat informasi bahwa buku tersebut merupakan Pemenang Sayembara Penulisan Naskah, atau Juara dalam lomba mengarang yang biasanya diselenggarakan oleh Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Buku-buku terbitan tersebut merupakan salah satu bentuk apresiasi karya yang secara langsung diterbitkan oleh pusat perbukuan sebagai bahan bacaan untuk menambah wawasan peserta didik. Maka tak jarang buku-buku seperti itu banyak kita temui di berbagai perpustakaan Lembaga Pendidikan, karena ketika sudah diterbitkan oleh pusat perbukuan maka akan didistribusikan langsung kepada lembaga-lembaga pendidikan, sekaligus sebagai sebuah promosi atas karya tersebut.

Salah satu media yang cukup inspiratif waktu dulu (sekitar tahun 95) sebagai tempat menyalurkan minat menulis yaitu majalah Asyik,  dengan tokoh utama si kucing. Majalah Asyik bisa dikatakan majalah Favorit yang selalu ditunggu-tunggu untuk setiap edisinya, lebih-lebih dengan sajian konten lokal yang sarat dengan nilai inspirasi, menjadikan majalah tersebut sebagai bacaan wajib untuk anak-anak sekolah dasar. Pada Rubrik sastra juga banyak diterbitkan kiriman-kiriman tulisan dari siswa-siswa yang menjadi kebanggan bagi suatu sekolah yang karya siswa mereka dimuat di majalah Asyik. Namun sangat disayangkan majalah tersebut tidak bertahan cukup lama, tergeser dengan budaya visual televisi, yang sempat menjadikan anak-anak sekolah menjadi malas membaca dan lebih gandrung dengan acara-acara televisi yang lebih banyak menjadikan karakter siswa kita menjadi hedonis dengan konten-konten yang ditampilkan di TV.

"Menulis adalah salah satu jalan mengabadikan nama kita untuk dikenang" ( Baim Lc),  setidaknya kata-kata inilah yang menjadi motto yang saya tuliskan dalam lembar motto dan persembahan skripsi. Jika saja filsuf-filsuf besar, Ilmuan Muslim, ataupun ilmuan besar lainnya tidak menulis, maka tidak ada yang akan mengenang mereka. Imam Gazhali dengan Ihya' ulumuddin yang tersohor sampai dijadikan rujukan oleh filsuf-filsuf besar lainnya, nama beliau masih tetap hidup sampai sekarang karena budaya menulis yang beliau tanamkan pada diri sendiri. begitu pula Ibnu Sina, al farabi, Ibnu Rusyd, Al kindi dan lainnya dapat kita kenal sampai saat ini karena mereka menulis dan mencatatkan nama mereka di antara jajaran Ilmuan muslim yang mempunyai karya besar dan relevan sampai sekarang. 

Bahkan Al Qur'an yang agung dapat kita kaji sampai detik ini dalam bentuk Utuhnya sebuah kitab, muncul karena budaya Menulis yang ditakutkan akan hilang jika tidak ditulis. Karena wahyu yang diterima Rasulullah bukan dalam bentuk tulisan akan tetapi ilham-ilham maupun bisikan  (lisan) yang langsung dapat dihapal oleh beliau. Barulah ketika masa khalifah Abu Bakar setelah terjadinya perang Yamamah (Perang melawan Nabi Palsu, Musailimah Al Kadzab), banyak di antara penghafal Al Qur'an yang wafat, ketakutan akan hilangnya Al qur'an inilah yang membuat Umar Bin Khattab tergerak untuk mengumpulkan para sahabat penghapal Al Qur'an untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan. Ilham untuk menuliskan Al Qur'an ini sudah pasti dari Allah SWT sesuai dengan firman-Nya " Sesungguhnya kami lah yang menurunkan Al Qur'an dan kami pula yang akan menjaganya (Al Hijr : 9). Secara tersirat penulisan al qur'an ini sebagai ibroh ( pelajaran) bahwa dengan tulisan sesuatu dapat bertahan bahkan dalam kurun waktu yang cukup lama.

Sebut saja penulis-penulis besar yang cukup berpengaruh di Indonesia dalam dunia kepenulisan, seperti Buya Hamka, Chairil Anwar, Pramoedya, A.A Navis dan lainnya, nama mereka sampai saat ini masih menjadi rujukan dalam kajian-kajian keilmuan, baik sejarah maupun semangat gerakan perjuangan yang digaungkan melalui tulisan mereka. Melalui Tulisan, Pramoedya membingkai sejarah revolusi bangsa kita yang sekarang telah dikenal luas,  sehingga melejitkan nama Pram dengan slogan,  Dari Indonesia Untuk Dunia. Dengan tulisan pula semangat perjuangan yang digaungkan para pahlawan bangsa kita dapat kita tahu dan tergerak untuk mengenangnya. Karena sejarah yang tidak dituliskan hanya akan menjadi ingatan yang hilang ditelan zaman.

Maka pantas saja salah seorang Budayawan NTB, Salman Faris, dengan novel budaya dan novel sejarah yang dibingkai dengan sastra pernah mengatakan, " Tulisan itu lebih abadi, bahkan melebihi anak kita sendiri", dan itu sudah terbukti, tulisan-tulisan ber-abad-abad lalu masih dapat kita nikmati sampai saat ini. Lebih lanjut beliau mengatakan, bahwa penulis sudah pasti orang yang berilmu, bukan orang bodoh, dan janji Allah sudah pasti bagi orang yang berilmu " Sesungguhnya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan berilmu di antara kamu beberapa derajat". (Al Mujadalah : 11), karena tulisanlah banyak orang-orang biasa yang bukan orang kaya atau pun bangsawan dapat dikenal luas, sebagaimana halnya mahfuzhat Imam Syafi'i di atas.

Menulis merupakan salah satu cara mengorganisir pikiran, maka tidak menutup kemungkinan menulis juga merupakan salah satu refleksi untuk menenangkan pikiran. Dengan menuangkannya melalui tulisan setidaknya pikiran yang menjadi beban akan terasa lebih ringan walaupun hanya dibaca oleh diri kita sendiri. Menulis bukan hanya untuk mendapatkan pujian, atau juga kepedulian dari pembaca, akan tetapi dengan menulis, pikiran maupun ide-ide yang tersimpan dalam otak kita mendapatkan ruangnya untuk ditumpahkan dan seakan lebih hidup dari pada hanya tersimpan di otak.

Salah satu Buku "menyikapi krisis Inovasi Daerah, yang merupakan buah karya dari seorang birokrat, mantan Wakil Gubernur NTB, Badrul Munir menuliskan tentang Inovasi-inovasi yang seharusnya dilakukan oleh daerah sebagai sebuah strategi dalam percepatan pembangunan, lebih khusus pada buku tersebut tentang pembangunan sosial dan pengentasan kemiskinan. Salah satu sub judul isi buku tersebut yaitu " Kaya sarjana Miskin Karya", setiap tahun kampus-kampus kita di daerah mengeluarkan ribuan sarjana, namun butuh bertahun-tahun menunggu satu orang yang mengeluarkan karya besar. Perguruan Tinggi pun hendaknya melakukan Inovasi untuk mencetak sarjana-sarjana yang menyumbangkan karya untuk daerah.

Jika dalam buku tersebut yang dibahas hanya inovasi dalam bidang sosial dan pengentasan kemiskinan, maka inovasi dalam bidang Pendidikan, Literasi dan Budaya hendaknya dipertimbangkan juga untuk tercapainya percepatan pembangunan. Salah satu Inovasi dalam bidang pendidikan dan Budaya yaitu budaya menulis yang seharusnya mendapat ruang apresiasi dan diakomodir oleh pemerintah Daerah yang notabenenya sebagai wakil dari Negara untuk membentuk sebuah lembaga sebagai wadah apresiasi suatu karya.

Penyediaan wadah apresiasi dari sebuah karya dapat dilakukan dengan menyediakan penerbitan berskala Nasional yang merupakan bagian dari lembaga Kepemerintahan Daerah, serta dengan diintensifkannya lomba-lomba penulisan karya. Secara sederhananya Pusat Perbukuan untuk daerah merupakan sebuah Inovasi yang cukup baik untuk membangun budaya Literasi. Banyak kita temukan penulis-penulis daerah yang  bertalenta berbagi inspirasi melalui tulisan menerbitkan karyanya pada penerbit-penerbit luar yang didominasi di pulau Jawa. Itupun kadang menggunakan Biaya sendiri dengan sistem penjualan pribadi dari karya tersebut, padahal kapasitas Pemerintah Daerah untuk mengelola penerbit sendiri yang berskala Nasional bisa saja digulirkan di bawah pengawasan lembaga Pemerintah Daerah seperti BAPPEDA, Perpustakaan Daerah, atau Kantor Bahasa yang membidangi Literasi.

Maka budaya menulis tersebut sangat representative sebagai sebuah Inovasi dalam berbagi Inspirasi yang sudah sewajarnya mendapat dukungan dari semua pihak, lebih-lebih pemerintah daerah. Pun, demikian dengan Media online di NTB yang digulirkan bertajuk Kampung Media, kadang tidak semua lapisan masyarakat mampu menikmati fasilitas untuk akses website tersebut yang memang banyak pula berbagi inspirasi di dalamnya. Untuk itu inovasi untuk pusat perbukuan daerah dengan penyediaan Penerbitan berskala nasional akan sangat banyak mendapatkan apresiasi dan antusias,  sehingga geliat masyarakat untuk membudayakan literasi dalam berbagi inspirasi akan menemukan titik temunya, dan melalui pusat perbukuan daerah dengan distribusi buku hasil karya warga daerah akan semakin membuka wawasan generasi muda daerah untuk gemar membaca demi tercapainya pemerataan pendidikan yang memadai di tiap daerah.

Di samping itu pengadaan Lomba/sayembara penulisan naskah merupakan sebuah wadah untuk apresiasi semangat literasi di daerah,  yang akan mampu mendobrak minat dan penekunan budaya menulis sebagai sebuah langkah awal dalam berbagi inspirasi. Untuk itu program Kelas Menulis, Bedah Karya atau Sekolah Menulis seperti yang telah dicanangkan BAPEDA termasuk sebuah Inovasi dalam membangun budaya. Hal ini sejalan dengan rancangan Peraturan Gubernur yang pernah digaungkan tentang habitus membaca sastra, karena melalui gemar membaca, keluasan wawasan masyarakat akan sangat membantu demi terwujudnya pendidikan yang baik. 

Apatah lagi sekarang ini kita tergerak membangun budaya Literasi, membaca saja bukan lagi hal menarik bagi generasi muda di tingkat pelajar, sebab banyak membaca akan tergerak pula ide untuk menulis. Lebih banyak kita temukan siswa-siswa kita lebih tekun duduk di tepan TV dari pada terpekur menikmati buku. Untuk itu dengan semangat Inovasi dalam membangun budaya baik ini, sudah sewajarnya digaungkan gerakan-gerakan kreatif seperti yang diungkap di atas demi terwujudnya tujuan ini.
(Lengkok, 10 November 2015)

Rabu, 21 Oktober 2015

Ideologi Itu Masih Ada dan Selamanya Terjaga



“Saat ini aku berada di persimpangan jalan
Apakah aku harus berjalan di atas kebenaran ataukah kedamaian
Ternyata aku lebih memilih kebenaran
Walaupun kebenaran itu penuh darah dan nanah

mereka sengaja memberikan mimpi tentang kedamaian,
sementara kebenaran telah dirobek-robek
jiwa dan raga kita telah tercabik-cabik,
terbuang dalam lautan debu yang sangat hitam”
(Wiji Thukul – Kabar Untuk Anak).

Penggalan syair wiji thukul yang mencoba mengungkap kebobrokan penguasa kala itu yang berakhir dengan penghilangan Wiji Thukul yang sampai sekarang tidak diketahui nasibnya. Begitu juga yang dialami oleh seorang jurnalis media local (san jose mercury news), Garry Webb yang mencoba mengungkap persekongkolan instansi pemerintah (CIA) atas perlindungan penjualan Narkotika secara besar-besaran di Amerika Tengah tahun1996, dengan Investigasi yang cukup membahayakan dirinya Garry Webb berhasil menemui narasumber jaringan-jaringan sindikat penjualan narkotika yang titik temunya pada persekongkolan CIA dengan pemberontak Nikaragua yang ingin membentuk Negara sendiri, mereka menjual Narkotika secara besar-besaran dan dananya digunakan untuk membeli senjata persiapan pemberontakan ke pemerintahan AS kala itu.

Ancaman CIA terhadap dirinya dan keluarga memicu Garry Webb semakin ingin mengungkap kejahatan atas persekongkolan tersebut dan akhirnya menerbitkan tulisan Invesstigasinya yang cukup menggemparkan Amerika waktu itu dan sempat diundang pada acara-acara televisi untuk ulasan tulisannya tersebut, namun berbagai macam terror yang dilancarkan kepada Garry webb dan dalih-dalih yang meyakinkan, serta dengan terror kepada narasumber yang telah didatangi Garry Webb, CIA mampu membantah ulasan Garry web tentang persengkongkolan gelap tersebut dan mengatakan Garry web menulis investigasi tersebut berdasarkan persepsi ribadi saja, sementara narasumber yang pernah didatangi bungkam suara bahkan mengatakan hal berbalik dengan apa yang pernah dikatakan kepada Garry Webb.

Terror semakin gencar dilancarkan kepada Garry web yang membuatnya meninggalkan keluarganya untuk sementara waktu, pada saat pengasingan diri itulah dia didatangi oleh seorang agen CIA yang membeberkan semua hal tersebut kepadanya. Sementara itu dia semakin didesak oleh redaksinya untuk menarik ulasan yang telah diterbitkan dengan mengatakan bahwa itu hanyalah persepsinya sendiri, namun Garry webb tetap bersikukuh dengan pendiriannya untuk mengungkap kebenaran apa adanya.

Menanggapi semakin rumitnya hal tersebut, Direktur CIA (John Deutch) mengadakan pertemuan dengan public terkait ualasan yang ditulis Garry web, dan banyak hal yang tak mampu dijawab dan disembunyikan dari public oleh CIA terkait Persekongkolan Gelap tersebut. Sebulan kemudian John Deutch mengundurkan diri dari CIA, lalu CIA menerbitkan sebuah buku tentang keterlibatannya atas persekongkola n penjaualan narkoba dan suplai senjata dengan pihak contra, inilah yang menjadi titik terang atas kasus tersebut, namun malang bagi sang jurnalis sejak terbuktinya kasus tersebut dia tidak pernah menulis lagi, dan 7 tahun setelah itu, di tempat pengasingannya dia ditemukan tewas dengan 2 tembakan di kepala. Opini public kembali disetting bahwa dia melakukan bunuh diri. (Berdasarkan kisah nyata – “Kill The Messenger”).

lalu bagaimana di negara kita, apakah semua media sudah tidak idealis lagi, menanggapi salah satu tayangan salah satu stasiun TV swasta tentang wawancara dengan bandar narkoba yang membeberkan terlibatnya aparat kita yang sengaja membiarkan Narkoba masuk Lapas bahkan oknum sipir dan Ka Lapas pun terlibat dalam konsumsi maupun penjualannya, bahkan bandar narkoba sendiri mengatakan tak mungkin memberantas kong-kalikong antara bandar dengan aparat tersebut.

kadang saya sering berpikir, banyaknya kasus penggerebekan pesta sabu, dan lainnya,justru semakin membuat marak kasus serupa yang bahkan merambah ke tingkat-tingkat lokal, lalu pernahkah kita menyaksikan secara langsung pemusnahan barang bukti tersebut terkait kasus yang telah diungkap. (asumsi pribadi).

Meninjau Komitmen Pemerintah dalam Mendukung Ekonomi Kreatif

Meninjau Komitmen Pemerintah dalam Mendukung Ekonomi Kreatif
Sejak awal terbentuknya kelompok pemuda di kampung kami, sudah beberapa proposal permohonan kerja sama maupun permohonan bantuan dana telah kami layangkan berharap ada lirikan dari pihak Pemda untuk menindak lanjuti program yang kami usung baik dalam bentuk bantuan dana, maupun penyediaan bahan atau alat yang kami harapkan. Lalu ada yang menyarankan untuk mengajukan proposal dengan meminta rekomendasi dari anggota dewan melalui dana aspirasi dewan dengan sistem berbagi persenan sesuai perjanjian jika dananya sudah keluar.

Rekomendasi pun kami dapatkan dari anggota dewan yang berasal dari Lombok Timur, karena sebenarnya dia juga yang menyarankan untuk membentuk usaha kreatif pemuda di kampung kami. Berbekal uang patungan kami pun membuat stempel dan membuka rekening baru untuk 2 buah proposal yang akan kami ajukan. Proposal telah terkirim dan kami menunggu, bagaikan nelayan yang telah menebar jaring menunggu hasil.

Sembari berharap menunggu dana tembus, komunitas pemuda yang kami gagas ini pun mencoba membuka usaha kecil-kecilan sebagai awal, seperti berjualan pulsa, jualan bensin dan program-program pembinaan seperti pendidikan, olahraga dan kepemudaan. Seiring lama berjalannya waktu usaha tersebut tidak berjalan dengan baik, sementara dana yang kami harapkan tak kunjung datang, satu persatu anggota komunitas pemuda kami beranjak mengadu nasib, merantau ke luar daerah, ada juga yang menjadi TKI ke negara tetangga dengan harapan mencari kehidupan yang lebih baik untuk ke depannya, namun untuk tetap mengeksiskan komunitas ini, program-program pendidikan kami usahakan untuk tetap berjalan.

Setelah pengajuan proposal yang pertama tidak jelas kabarnya, kembali kami mengajukan proposal melalui anggota dewan yang lain dengan janji secepatnya dana akan keluar, pada pengajuan kedua ini kami diminta untuk tidak melampirkan rekening komunitas dengan alasan mungkin saja akan diberikan secara tunai. Kami pun menunggu lagi masih dengan harapan yang sama meskipun beberapa anggota banyak yang telah pergi merantau. Proposal kedua ini pun mengalami nasib yang sama, tanpa kabar dan tindak lanjut pemberitahuan, apa yang mesti kami perbaiki dari usulan proposal kami agar mendapatkan perhatian dari pihak Pemda.

Namun kami tidak putus asa setelah keduanya tak mendatangkan hasil, walaupun satu persatu juga anggota komunitas kami direkrut menjadi penjaga (Red : karyawan) untuk usaha-usaha kolektif maupun pribadi yang dibuka orang lain. Usulan selanjutnya kami mengajukan proposal melalui lembaga milik yayasan yang menjadi pengusung terpilihnya kepala Pemda saat ini, informan kami menyarankan untuk mengusung nama yayasan tersebut sebagai tempat bernaung karena pengajuan ini diprioritaskan untuk komunitas/kelompok yang bernaung di bawah yayasan **, kami pun mengiyakan untuk mengusung nama yayasan dan satu tambahan lagi proposal program pada pengajuan ini yaitu program Rumah Belajar dan Taman Baca.

Namun sayangnya, beberapa hari setelahnya, proposal tersebut dikembalikan dengan catatan hal-hal yang tidak substansial untuk perbaikan yang salah satunya diminta untuk menaruh tanggalan Hijriyah dahulu baru diikuti tanggalan Masehi, dan yang lainnya berkaitan dengan tanda tangan yang harus mengetahui kepala desa, karena memang pada proposal tersebut kami mengusung pejabat yang mengetahui yaitu kepala dusun. perbaikan pun selesai, proposal kami antar kembali melalui anggota dari lembaga milik yayasan tadi.

Beberapa hari setelahnya kami kembali mendapatkan kekecewaan, proposal perbaikan yang kami ajukan melalui lembaga yayasan ini dikembalikan lagi, dan setelah ini saya selaku ketua tak menghiraukan lagi perbaikan yang diminta, harapan untuk mendapatkan dana dari Pemda saya pikir ibarat mendulang air dengan ayakan. Keseriusan pihak Pemda untuk membantu program-program pemuda hanyalah hegemoni semu yang digulirkan supaya masyarakat menilai bahwa mereka peduli terhadap progresifitas pemuda, namun kecewanya saya dengan asumsi pribadi karena memang kami mengusung pluralitas pada program-program kami dan tidak terlalu moderatisasi yayasan, lalu Proposal yang kami ajukan tak pernah ada tindak lanjut, sementara yang mengajukan di bawah naungan yayasan milik kepala Pemda kadang mulus saja, meski itu dengan jumlah bantuan mencapai miliaran.

Komitmen pihak Pemda untuk menumbuh kembangkan ekonomi kreatif masyarakat perlu dikritisi bersama, jangan sampai APBD yang ada hanya digunakan untuk membiayai perjalanan wisata pejabat daerah, atau hanya untuk disimpan sehingga memberi peluang untuk dikorupsi oknum-oknum haus kekayaan atau untuk membiayai satu mega proyek yang sekiranya menguras APBD, sementara masyarakat kita tetap sebagai pekerja keras, bahkan sampai matipun keadaan tetap-tetap saja tanpa ada perubahan.

Kehidupan semakin keras, lapangan kerja semakin menyusut, jikapun ada kebanyakan berada di pusat perkotaan yang membuat warga desa semakin berduyun-duyun meninggalkan desa, padahal seharusnya desa atau warganya perlu mendapatkan pembinaan yang berprospek untuk kemajuan dan kesejahteraan warga, khususnya dengan ekonomi-ekonomi kreatif yang sudah semestinya mendapat perhatian dari Pemerintah, sehingga desa tetap makmur, angka kriminalitas menurun, yang nantinya berimplikasi juga pada tingkat pendidikan/intelektualitas warga desa, khususnya generasi muda sebagai SDM untuk ke depannya yang lebih maju. Melalui stimulasi dana bantuan yang digulirkan Pemerintah setidaknya akan ada program Pemuda yang dapat berjalan seperti harapan mereka.

Tahfidz Bukan Sekedar Menghafalkan Bacaan

Beberapa hari lalu di salah satu TPQ di kampung, kami mengadakan evaluasi tahfidz untuk Juzz 1 yang diikuti oleh santri yang telah lancar membaca Al qur'an. Tenggang waktu para santri menghafal selama satu minggu, dengan setiap harinya adalah 5 ayat, waktu evaluasinya kami adakan setiap malam ahad ba'da magrib. Pada minggu ini kami memberikan tugas untuk menghafal sampai ayat 30 pada juzz 1. Sempat terjadi tawar menawar jumlah ayat yang akan dihafalkan, namun kami tetapkan saja minimal sampai ayat 30, boleh lebih. Protes dari para santri tak membuat kami surut untuk memfokuskan mereka menghafal.

Evaluasi malam itu kami mulai dengan sama-sama mengulang dari awal sampai ayat 30, sementara mereka mengulang saya menyiapkan papan dan menulis keterangan proses penilaian yang akan kami lakukan, yang terdiri dari nama, jumlah ayat, 2 pertanyaan jika tidak dapat menghafal sampai ayat 30, kesalahan dalam hafalan, dan terakhir nilai dalam bentuk huruf. Santri pertama yang menghafal tak sampai ayat 10 sudah kebingungan lanjutan ayatnya walaupun saya bacakan ayat awalnya, pertanyaan pun tidak ada yang dapat dilanjutkan, penilaian tidak saya tuliskan. lalu dilanjutkan dengan santri ke-2 hanya hafal sampai ayat ke-14, pertanyaan hanya 1 dapat dilanjutkan dari ayat yang saya bacakan, nilainya pun saya tulis C.

Dari total 10 santri yang hadir untuk setor hafalan pada malam itu, ada 3 orang yang dapat menghafalkan sampai ayat 30. santriwati yang masih duduk di bangku kelas 1 MTs. tsb lancar sampai ayat 14, lalu saya bacakn satu kata awalnya dan dilanjutkan dengan lancar pula, namun kesalahan kata pada lanjutan ayat tetap saya hitung sebagai sebuah kesalahan. meskipun dia hafal sampai ayat 30 namun total kesalahan pada bacaannya yaitu 6 point, saya pun memuji dan memberikan semangat atas komitmennya menghafal, nilai saya tuliskan B+. selanjutnya yang hafal sampai ayat 30 ada santriwan yg duduk di bangku kelas 2 MTs., hafalannya pun tidak jauh beda dengan yang tadi, namun total kesalahan bacaannya 13 point, nilai saya tuliskan C+. Santriwati selanjutnya yang hafal sampai ayat 30 total kesalahannya 9 point, nilai yang saya berikan B.

Karena waktu yang kami targetkan sampai adzan isya berkumandang, dan azan isya telah lama dikumandangkan, bahkan jamaah di masjid hampir selesai, akhirnya saya putuskan 4 santri yang tersisa untuk mengahafal sampai ayat 15 dan dilanjutkan degan 4 pertanyaan untuk melanjutkan ayat. Pada proses menghafal dengan melanjutkan ayat ini ada 2 santri yang ketika saya tanyakan apakah hafalan mereka sudah sampai ayat 30, mereka menjawab Insyaallah, pada kolom jumlah ayat tsb saya tambahkan huruf I yang berarti insyaallah. Pertanyaan pun dilanjutkan, santriwati pertama pada proses kedua ini mampu melanjutkan ayat dari 4 pertanyaan yang saya ajukan, namun kesalahan pada bacaan ada 3 point, nilai saya tuliskan A. Santriwati selanjutnya pada proses kedua ini pun tak jauh beda, kesalahan bacaannya ada 4 point, nilai saya tuliskan A juga.

Melihat dua santri dengan proses berbeda dari cara evaluasi mereka, 3 santri yang mendapat B+, C+ dan B tadi langsung saja mengajukan protes tentang sistem penilaian yang saya berikan, Namun karena masih ada 2 santri yang belum mendapat giliran, proses setor hafalan saya lanjutkan, dan coba menenangkan protes mereka, dan 2 santri terakhir tsb ternyata tidak hafal sampai ayat 30 walaupun sudah saya bacakan awalnya, nilai mereka saya tulis c. Setelah semua santri selesai evaluasi hafalan, santri yang tadi kembali mengajukan protes tentang sistem penilaian, mereka beralasan proses hafalan dengan sistem pertanyaan tadi dirasa tidak fair sedangkan mereka telah capek-capek menghafal dari awal, nilaipun lebih banyak didapatkan mereka yang menggunakan pertanyaan. Dalam hati saya juga merasa seperti itu, apakah saya cukup adil dalam menilai.

Alasan pertama saya kemukakan tentang perbedaan nilai tersebut karena frekuensi kesalahan bacaan mereka yang menjadi patokan saya untuk mengakumulasi nilai akhir mereka, lalu alasan masalah jumlah ayat yang mereka hafal antara yang menghafal dari ayat 1-30 dengan mereka yang menghafal sampai ayat 15 tapi ditambah empat pertanyaan untuk melanjutkan ayat, pada pertanyaan tersebut ayat yang saya minta untuk dilanjutkan bacaannya yaitu melebihi ayat 30 yang ditargetkan dan mereka mampu melanjutkannya, maka saya menyimpulkan mereka hafal sampai ayat 30. Namun Alasan tersebut tampaknya belum cukup memuaskan terkait perbedaan nilai antara mereka yang mendapat nilai B+ melaui proses menghafal dari ayat 1-30, dengan mereka yang menghafal sampai ayat 15.

Saya lanjutkan memberikan support bahwa yang menghafal penuh dari ayat 1-30 mendapatkan nilai plus yang saya tuliskan (E) yang bermakna Excelent untuk 3 santri yang protes tadi, dengan nilai plus tersebut barulah mereka semangat lagi dengan nilai yang sudah ada. Namun dalam hati saya sendiri juga masih berpikir, benarkah penilaian yang saya berikan seperti ini yang ujung-ujungnya membuat mereka menghafal hanya untuk tinggi-tinggian nilai dan berkompetisi sekedar mencari gengsi dengan banyak-banyakan hafalan sementara makna satu ayatpun belum sempurna dipahami, termasuk saya juga.

Setelah shalat isya kembali lagi saya tegaskan bahwa proses menghafal seperti ini jangan sekali-kali membuat mereka ria' dengan menceritakan hafalan-hafalan mereka kepada orang lain, lalu dengan nilai yang saya berikan jangan sampai itu menjadi tujuan utama menghafal, karena itu bisa saja sebuah penilaian objektif yang mengandung subjektivitas yang tidak saya sadari ketika menyimak ataupun memberikan pertanyaan untuk melanjutkan ayat. Setidaknya semangat mereka untuk menghafal sudah kami sama-sama tanamkan bukan sekedar mencari gengsi atau mengikuti mainstream publik yang menjadikan tahfidz sebagai legitimasi untuk menjaring persepsi masyarakat supaya memandang mereka sebagai yang terbaik, namun penilaian yang sesungguhnya kami serahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa. Suatu saat saya berjanji pada diri sendiri untuk memahami dan membahas ayat-ayat tersebut lebih dalam, baik melalui studi literatur yang sudah ada ataupun mengundang ahli pada bidang tafsir, sehingga nilai-nilai dalam Al Qur'an benar-benar mampu kami serap untuk diamalkan.

Saya jelaskan terkait protes yang tadi untuk selanjutnya akan saya usahakan untuk memberikan evaluasi yang sama bagi semua santri sehingga tidak ada lagi kecemburuan dengan penilaian yang saya berikan, namun tetap memperhatikan esensi bacaan dan frekuensi salah baca maupun salah kata yang mereka lanjutkan, kami niatkan ini sebagai awal untuk membina generasi-generasi Qur'ani yang berkomitmen dan memiliki integritas untuk progresifnya intelektualitas keagamaan generasi kami.

Hijab : Antara Tabarruj Dan Komitmen Memperbaiki Akhlak




Siapa yang tidak ingin tampil cantik dengan gamis dan jilbab indah yang menjadi trend bagi wanita-wanita stylish masa kini, namun di balik indahnya pakaian tersebut mereka harus berani merogoh kantong di atas standar untuk tampil dengan style hijab seperti yang disebut kebanyakan orang sekarang. sedangkan hijab yang sebenarnya masih perlu mendapat pemahaman yang lebih mendalam sehingga tidak salah kaprah dengan menjadikan upaya-upaya berhijab tersebut sebagai legitimasi atas tabarruj (berlebihan dalam berhias) yang mereka lakukan.

Banyaknya trend-trend jilbab modern yang diusung oleh desainer-desainer jilbab semakin menjadikan fenomena hijab ini menjadi semakin jauh dari makna hijab yang sebenarnya, bahkan sampai-sampai diadakan seminar-seminar tutorial hijab yang dihadiri oleh mereka yang berdandan nampaknya boneka mainan yang dililitkan jilbab macam ular di badan mereka, tak terkecuali masyarakat kampus (mahasiswi) yang seharusnya lebih jeli memfilter budaya-budaya mana yang berkenaan dengan syariat yang sebenarnya malah ikut arus mengadakan lomba-lomba hijab wanita muslimah, lantas kalau hijab saja sudah dijadikan ajang untuk saling pamer, di mana letak nilai komitmen untuk menjalankan anjuran Tuhan terkait hijab seperti yg tertuang dalam Q.S. Al Ahzab ayat 59 tersebut.

Kalau beberapa waktu lalu mencuat fenomena jilboobs (jilbab tetapi aurat vital kelihatan), jipon (jilbab poni), kerdus (kerudung dusta), kerpun (kerudung punuk) atau kerbus (kerudung busuk) kesemuanya merupakan contoh lepasnya makna esensi hijab dari yang sebenarnya, dan sekarang fenomena berlebihannya bentuk penggunanaan jilbab yang secara esensi sebagai penutup aurat menjadi topik hangat yang kembali mencuat dengan isu tabarruj di kalangan para muslimah yang mendahulukan style dari pada fungsi.

Hijab yang secara bahasa bermakna penghalang/penutup mengalami penyempitan makna yang dipahami secara khusus bagi wanita yang mengenakan gamis maupun jilbab besar yang menjadi style atau lebih familiar disebut dengan hijab syar'i. secara syariat hijab dimaknai sebagai pakaian yang menutup aurat yang tidak mengundang syahwat bagi orang yang memandangnya dengan tetap berpedoman pada fungsi hijab yang sesuai syariat bukan sebagai alat untuk bertabarruj atau agar dipuji orang lain karena kecantikan/keindahan orang yang mengenakannya, sehingga wanita muslimah yang ingin berhijab benar-benar karena keinginan untuk mengikuti anjuran Tuhan supaya menutup aurat bukan karena mereka lebih memperhatikan gaya-gayaan/style dari pada syariat yang dianjurkan.

Terkait dengan beberapa bentuk penggunaan jilbab/hijab seperti disebutkan di atas itu merupakan bentuk pemahaman masing-masing individu terhadap style jilbab yang mereka ikuti, di samping itu juga maraknya jenis-jenis jilbab atau style penggunaan jilbab dimotori oleh budaya masyarakat kita yang selalu meniru (follower) hal-hal baru yang kadang secara substansial tidak memberi manfaat apa-apa namun cukup ampuh merubah pola pikir masyarakat tentang suatu hal. seperti contoh jilbab ini, beberapa waktu lalu dengan boomingnya film-film tema percintaan berbalut religi, para aktor/aktris dengan nampak anggunnya mengenakan pakaian-pakaian gemerlap yang mereka sebut hijab juga, lalu masyarakat dengan paradigma untuk selalu eksis tampil cantik juga ikut-ikutan mengenakan kostum seperti itu, entahlah dengan niat untuk mengikuti syariat anjuran menutup aurat atau mengikuti tabiat artist di film tersebut (hanya Tuhan yang tahu niat seseorang), bahkan aktris-aktris pada film tersebut menjadi pemandu tutorial hijaber yang lumayan menguras waktu untuk mengenakannya seperti yang pernah saya saksikan melalui youtube.

Saya pernah berkunjung ke salah satu toko perlengkapan hijab di wilayah Mataram yang secara bersamaan juga menjual beberapa kitab-kitab/buku islami, iseng-iseng saya lirik-lirik juga beberapa pakaian muslimah yang paketan dari gamis sampai jilbabnya, karena tidak dipungkiri saya juga senang melihat wanita muslimah dengan pakaian seperti itu, bukan saja terlihat cantik tetapi aura-aura shalihahnya itu nampak juga, seperti beberapa mahasiswi di kampus FKIP tempat saya kuliah dulu. awalnya saya tidak yakin dengan bandrol yang tersemat di beberapa pakaian tersebut, setelah saya lirik jenis-jenis yang lain juga ternyata harganya tidak jauh beda rata-rata di atas Rp. 500.000, yang paling murah saya perhatikan berada pada kisaran harga Rp. 350.000. sempat terpikir juga pada waktu itu, mahasiswi-mahasiswi yang tampil berhijab syar'i seperti yang mereka sebut ternyata lumayan merogoh kantong juga sehingga tampil anggun seperti itu, sementara mahasiswi-mahasiswi dengan kostum standar ala anak kuliahan mungkin saja mereka sebenarnya ingin tampil syar'i juga, namun tak cukup uang untuk memboyong pakaian-pakaian hijab seperti itu, dan memutuskan untuk tampil standar seperti mahasiswi kebanyakan dengan jeans lalu pakaian katun longgar dan jilbab.

Sekiranya paradigma berhijab yang mereka pahami dengan menggunakan gamis dan jilbab besar seperti itu, maka rata-rata mungkin kebanyakan mahasiswi agak berat untuk membelinya, bagi mahasiswa yang orang tuanya berpenghasilan menengah ke atas harga tersebut mungkin bisa saja mereka bayar, namun mahasiswi dengan kantong pas-pasan mungkin mereka akan mikir 1000 kali untuk memutuskan keinginan tampil dengan hijab syar'i seperti yang mereka sebutkan.

Lalu berkenaan dengan munculnya beberapa macam jilbab dan cara mengenakannya yang aneh-aneh juga tidak lepas dari peran media yang menumbuh suburkan budaya-budaya untuk tampil eksis dengan bermacam gaya dari pada fungsi jilbab yang sebenarnya. memang diakui pasti semua wanita ingin tampil cantik entah itu ketika di dalam rumah maupun ketika bepergian. lantas ketika para wanita berlomba-lomba untuk selalu tampil lebih cantik di hadapan umum sehingga membuat orang lain selalu menujukan pandangan kepadanya, rata-rata laki-laki normal pasti menimbulkan pemikiran dalam benak mereka mulai dari kekaguman, ujung-ujungnya ingin tahu siapa namanya, lama-lama muncul pikiran seandainya dia jadi pacar/istri. ini memanglah hal wajar, walaupun Rasulullah SAW. mengingatkan bagi seseorang yang akan membina rumah tangga dengan 4 kriteria yang disuguhkan, namun tak dipungkiri yang paling dominan dilihat sekarang adalah kecantikan maupun kekayaan, sementara agama mungkin dilihat pada urutan yang ketiga atau kedua.

Kemudian muncul beberapa statemen publik tentang berbedanya antara jilbab dengan akhlak, seseorang yang berjilbab namun akhlaknya masih belum bisa dijaga seperti ghibah/membicarakan keburukan orang lain, fitnah, atau tampil dengan mesranya di hadapan publik bersama seorang yang bukan mahram, sehingga memunculkan fenomena kerdus (kerudung dusta) atau kerbus (kerudung busuk), lalu banyak yang berdalih "jika seorang perempuan berjilbab namun belum bisa menjaga sikap, jangan dianggap lebih buruk karena semata-mata dia berjilbab, namun murni karena kepribadian mereka, perempuan berjilbab (menutup aurat) belum tentu berakhlak, perempuan berakhlak pasti berjilbab (menutup aurat)". 

Kalau sekarang fenomena digembar-gemborkannya seruan untuk berhijab namun muncul wacana seperti itu tentang terlepasnya makna jilbab dengan akhlak, lantas apakah jilbab tersebut hanya dijadikan gaya-gayaan untuk memikat lawan jenis supaya lebih mengagumi mereka sementara akhlak tidak turut untuk dibenahi, atau bentuk-bentuk hijab tersebut sebagai alat untuk tabarruj padahal dalam Al Qur'an jelas-jelas Tuhan melarang Tabarruj seperti dalam firman-Nya "Janganlah engkau berlebihan dalam berhias seperti berhiasnya orang-orang jahiliyah. (Q.S Al Ahzab : 33)", atau apakah jilbab yang dikenakan sekedar mengikuti trend berjilbab karena fenomena follower yang sedang booming-boomingnya.

Bahkan beberapa waktu lalu saya pernah mengikuti suatu kuliah, lalu di depan ada seorang perempuan, adik tingkat dengan dandanan tampak rapi ala Kerpun (kerudung punuk) datang dengan tergesa-gesa, sekilas tak ada yang aneh dengan dandanannya karena kebanyakan mahasiswi berdandan seperti itu juga, secara tidak sengaja salah seorang teman di samping saya menunjuk ke jilbab adik tingkat tersebut, saya masih belum menangkap apa yang dia maksud, setelah saya perhatikan lebih detail pada jilbab yang dikenakan, ternyata pada jilbab abu tersebut di ujung bawahnya dibordir berbagai macam logo jejaring sosial yang pernah ada dan booming di internet seperti facebook, twitter, Yahoo Messenger, BBM, youtube, google chrome, blogger, google play, firefox, gmail, Ymail, safari, Itunes, ebay,dan lainnya yang saya lupa juga, dan seingat saya pada waktu itu satu yang tidak ada pada jilbab tersebut yaitu Internet Explorer. sekarang dengan lebih banyaknya lagi jenis jejaring sosial yang ada mungkin telah ditambahkan bordirannya oleh si empunya jilbab karena pada waktu itu sekitar tahun 2013 belum muncul instagram, path, LinkedIn, google +, dan lainnya.

Setelah menemukan kejadian seperti itu, pada keesokan harinya saya menonton sebuah tayangan program Khazanah yang membahas tentang fenomena maraknya jilbab punuk yang menyerupai tanduk atau punuk unta sebagai pertanda akhir zaman, sekilas saya melihat juga jilbab aksesoris yang dikenakan salah seorang artist remaja dengan bordiran aksesoris jejaring sosial persis seperti yang dikenakan adik tingkat waktu itu.
Kembali kepada topik tentang jilbab dan akhlak, secara substansi syariat antara anjuran menutup aurat (berhijab) dengan anjuran berakhlak mulia memang sepadan sebagai bentuk pemuliaan manusia sebagai makhluk yang sempurna, jika kemudian muncul persepsi tentang pemisahan keduanya sebagai legitimasi untuk tetap eksis dengan style tampil cantik yang sesuai dengan zaman, maka hal itulah yang seharusnya mejadi fokus pemahaman bersama tentang bagaimana kita membiasakan antara anjuran menutup aurat dengan komitmen untuk memperbaiki akhlak, baik akhlak kepada sesama manusia maupun akhlak kepada Tuhan.

Ketika seseorang telah berniat tulus untuk berhijab mengikuti anjuran Tuhan maka secara tidak langsung perbaikan-perbaikan pada tingkat yang lain akan mengikuti, akan tetapi ketika niat berhijab untuk sekedar mengikuti trend atau berhias agar dipuji atau hanya untuk terlihat tampil cantik di muka umum maka itulah yang memunculkan jilbab hanya dijadikan alat tabarruj, berlebihan dalam berhias dengan make up dan jilbab aneh beraneka dandanan yang kadang tak jarang juga memunculkan cibiran miring atau bahan tertawaan bagi yang lain seperti contoh jilbab punuk jejaring sosial tadi.

Hijab yang sederhananya memenuhi syar'i dan tidak terkesan bertabarruj,  kadang tidak butuh biaya mahal asal memiliki komitmen juga untuk tampil sederhana seperti yang banyak dikenakan oleh remaji-remaji santri pada umumnya,  seperti dengan menggunakan rok lalu pakaian longgar dan jilbab rapi yang menutupi bagian kepala sampai dada atau jilbab besar yang menutupi sampai bawah pada badan bagian belakang. Namun bagi para pemudi yang masih belum percaya diri untuk tampil seperti itu, dengan dandanan seperti biasanya asalkan tertutup rapi aurat, sehingga tidak menimbulkan nafsu syahwat bagi yang memandang dan tetap menjaga akhlak itupun juga termasuk sudah berhijab pada dasarnya. Oleh karena itu komitmen untuk berhijab dan memperbaiki akhlak harus disinergikan secara tepat sehingga tidak muncul lagi statemen seperti  kerudung dusta, kerudung busuk tadi demi terwujudnya muslimah-muslimah sejati yang bahkan sampai disebut-sebut sebagai tiang negara.

Maka sudah sewajarnya generasi-generasi remaja putri yang sedang geliat-geliatnya berdandan supaya tampil cantik dibentengi dengan anjuran untuk mensinergikan antara akhlak dan komitmen untuk berhijab sehingga mereka tidak saja memperhatikan dandanan namun di balik itu nilai akhlak, dan generasi Qur'ani terpatri dalam diri mereka. Wallahu a'lam.

Nb : Tulisan ini bukan bermaksud untuk menggurui, namun semata-mata sebagai bentuk penuangan kegelisahan atas fenomena yang ada.

Nilai Solidaritas dalam Menyambut Calon Haji

Ibadah Haji merupakan ibadah sebagai penyempurna keislaman hamba yang benar-benar berserah diri kepada Tuhan. Maka pantas saja salah satu syarat dari ibadah Haji yaitu mampu. Berbicara tentang konsep mampu dalam tataran masyarakat kita di Lombok (Lombok Timur), hal yang pertama berkaitan pasti mampu secara ekonomi, karena memang biaya untuk pelaksanaan Haji dapat dikatakan cukup besar bagi kami yang sehari-hari biasa hidup di kalangan menengah ke bawah. Lalu yang tak kalah pentingnya yaitu mampu secara mental, mental yang benar-benar ingin menyempurnakan Rukun islam melalui ibadah Haji, karena Haji itu ibadah yang dilakukan dengan melakukan perjalanan panjang ke tanah suci Makkah dan tempat-tempat bersejarah dalam Islam lainnya, jadi kesiapan mental dan semangat untuk mendapatkan Ridha Tuhan harus benar-benar dipersiapkan dari awal.

Selain itu paradigma yang tertanam dalam masyarakat Lombok bahwa melaksanakan Haji sebagai panggilan resmi dari Allah SWT untuk berkunjung ke Baitullah. Banyak orang yang mempunyai kelebihan harta tetapi belum dapat melaksanakan ibadah Haji, persepsi masyarakat kita merujuk karena mereka belum mendapatkan panggilan dari Tuhan untuk berhaji. Lebih-lebih di saat sekarang kuota haji yang dari Indonesia mendapatkan pengurangan dari pihak pemerintah Arab Saudi, jadi jika ingin melaksanakan ibadah Haji harus menunggu 10 sampai 12 tahun untuk dapat berangkat. Akan tetapi lamanya menunggu, tingginya biaya penyelenggaraan ibadah haji tak melemahkan semangat masyarakat kita untuk tetap mendaftarkan diri menjadi calon jamaah haji. Banyak kisah yang membuktikan bahwa haji itu merupakan benar-benar panggilan dari Allah SWT untuk para tamu-Nya. Beberapa waktu lalu jamaah yang sudah mengantri sekitar 5 tahun dan tepat pada tahun ke-enam namanya keluar sebagai calon jamaah haji telah mempersiapkan segala sesuatunya lebih awal, namun pas akan berangkat ke Arab Saudi diberitakan bahwa visanya tidak keluar yang menyebabkan tertundanya pemberangkatan, hal seperti itu sebagai cobaan berat bagi calon jamaah haji, bahkan ada yang sampai stress hilang akal.

Di Lombok (sekali lagi tepatnya di Lombok Timur) tradisi masyarakat kita untuk menyambut keberangkatan calon jamaah haji cukup beragam. Di Lombok Timur misalnya, sebelum memasuki bulan Ramadhan warga sudah beramai-ramai ikut membantu mengumpulkan kayu bakar persiapan untuk acara syukuran atau begawe pada hari yang telah ditentukan atau istilahnya mbau kayuq, sebenarnya acara mbau kayuq ini juga biasa dilaksanakan tiap ada orang yang akan melaksanakan begawe, baik itu acara pernikahan, khitanan, aqiqah ( molang maliq), peringatan 9 hari kematian dan lainnya. Namun berbeda dengan penyambutan keberangkatan calon jamaah haji ini, mbau kayuq tersebut sebagai pertanda awal, masih banyak tahapan acara yang lain yang akan dilaksanakan sampai menjelang tibanya keberangkatan calon Haji. Lalu 4 atau 5 hari setelah Ramadhan warga kembali diberitahukan melalui pengumuman dengan pengeras suara dari masjid pada hari yang telah ditentukan, warga diminta berkumpul untuk pembuatan ketaring (teratak) sebagai peneduh di sekitar rumah calon haji dan berbagai macam hiasan bernuansa islami pertanda akan berangkat haji salah satu dari warga di masyarakat tersebut. Bahkan dengan kecanggihan teknologi saat ini rata-rata calon jamaah haji memajang baliho/spanduk beserta fotonya disertai kata-kata doa untuk mendapatkan haji mabrur.



Setelah pembuatan teratak di rumah calon haji sudah selesai, kembali lagi dari pengeras suara di masjid warga diberitahukan pelaksanaan acara ziarah maqam bersama calon haji akan dilaksanakan pada hari yang telah ditentukan, biasanya 1 atau 2 minggu setelah pembuatan teratak tadi, tergantung hari baik menurut pertimbangan dari orang yang mempunyai kelebihan untuk melihat pertimbangan hari-hari pelaksanaan acara, istilahnya disebut diwase jelo. Hal yang menarik dari pelaksanaan ziarah maqam ini, di samping sebagai acara syukuran untuk berdoa mengunjungi maqam-maqam Auliya' - Alim yang tersebar letaknya di sekitaran Lombok, juga merupakan acara rekreasi keagamaan bagi warga yang ikut, karena biasanya konsumsi untuk warga yang ikut telah disediakan oleh calon haji. Maka tak jarang ketika acara ziarah maqam bersama calon haji di kampung selalu ramai yang mengikuti, bahkan tokoh-tokoh agama dari kampung tetangga juga diundang untuk ikut memberikan doa pada acara ziarah maqam ini.

Acara ziarah ke maqam para alim ulama' yang ada di Lombok ini dihajatkan sebagai pelatihan bagi calon jamaah haji. Memang Ibadah haji secara substansial pelaksanaannya berisi ziarah atau berkunjung ke tempat-tempat bersejarah dalam agama islam, maka melalui ziarah maqam sebelum keberangkatan, calon haji mendapatkan pembelajaran dari rumah sebelum berziarah ke tempat-tempat bersejarah sesuai tuntunan pelaksanaan haji. Maqam-maqam yang diziarahi calon haji ini pun beragam, seperti yang kita ketahui di Lombok terdapat berbagai organisasi islam, dan tiap organisasi itu pasti memiliki Tuan Guru yang ditokohkan sebagai pendiri atau pengelola Yayasan, maqam Tuan Guru inilah yang diziarahi oleh calon haji untuk memanjatkan doa keselamatan dan keberkahan sebelum berangkat melaksanakan ibadah haji.

Selain maqam-maqam Tuan Guru pendiri Yayasan, banyak pula maqam Tuan Guru atau maqam tokoh-tokoh yang telah berjasa menyebarkan agama Islam di tanah Lombok yang diziarahi calon haji, namun tetap mendahulukan ziarah ke maqam Tuan Guru pendiri Yayasan atau organisasi Islam yang calon haji masuk sebagai anggota di dalamnya atau tergantung kedekatan lokasi maqam tersebut dari rumah calon haji. Misalnya, Calon Haji Lombok Timur dari Ormas Nahdhatul Wathan ketika melakukan Ziarah, maqam yang pertama kali diziarahi maqam Tuan Guru Kiyai Haji M. Zainuddin Abd. Majid (Hamzanwadi) di Pancor, karena seperti yang kita tahu beliau cukup besar jasanya menyebarkan Islam di tanah Lombok melalui pendidikan dengan sistem Pondok Pesantren dan Halaqah-halaqah agama. Beliau juga termasuk pejuang Kemerdekaan Negara Indonesia dari Lombok, serta pernah terlibat langsung dalam peperangan mengusir tentara NICA di Selong (dalam buku Biografi Maulanasyaikh TGKH. M. Zainuddin Abd. Majid karangan H. Hayyi Nu'man).

Setelah Selesai berdoa di Maqam Hamzanwadi dilanjutkan dengan berziarah ke maqam Raja-raja Selaparang di Selaparang kecamatan Suela Lombok Timur. Kerajaan Selaparang merupakan Kerajaan Islam yang pernah berdiri di Lombok jauh sebelum kedatangan penjajah ke Nusantara. Di maqam Selaparang ini bentuk maqam tersusun rapi dari bebatuan yang sudah melekat dan tampak alami tanpa sentuhan teknologi bahan bangunan seperti sekarang. Maqam-maqam bersejarah lainnya yang masih berada di kawasan Lombok Timur yang biasa diziarahi calon haji yaitu maqam TGH. Saleh Sungkar, Maqam Tuan Guru Ahmad Tretetet dan lainnya. Usai dari maqam-maqam yang berada di kawasan Lombok Timur barulah beranjak ke maqam-maqam bersejarah lainnya, di Lombok Tengah misalnya, ada maqam Tuan Guru Haji Lopan, lalu dilanjutkan ke maqam loang baloq di Tanjung Karang dan terakhir ke maqam batu layar di kawasan batu Layar Lombok barat. Pada maqam yang terakhir ini biasanya dilanjutkan dengan rekreasi ke pantai senggigi menikmati bekal yang dibawa dari rumah, maka tak heran perjalanan satu hari penuh untuk berziarah itu menjadi momen besar bagi calon haji. Bahkan ada yang lebih antusias lagi tak cukup dengan maqam yang ada di kawasan Lombok Timur, Lombok Tengah, Lombok Barat, calon haji kadang mengundang tokoh-tokoh agama dengan rombongan kecil bersama keluarga berziarah ke maqam-maqam bersejarah lainnya yang tak sempat dilakukan pada saat rombongan besar, seperti maqam-maqam yang ada di bagian Jerowaru, Pujut lalu terakhir ke maqam Masjid Kuno yang ada di bayan.


Selanjutnya calon Haji yang dari Organisasi islam Maraqitta'limat, maqam yang pertama diziarahi yaitu maqam TGH. Zainuddin Arsyad sebagai pendiri Yayasan Maraqitta'limat yang terletak di Pekuburan Umum Mamben Lauk, Yayasan Maraqitta'limat ini juga sudah berusia cukup tua sebagai organisasi Islam di Lombok yang berpusat di Mamben Lauk. Setelah selesai berdoa di maqam yang ada di mamben lauk, ziarah dilanjutkan ke maqam raja-raja selaparang, maqam TGH. Saleh Sungkar, barulah beranjak ke maqam-maqam yang lain seperti yang dilakukan calon Haji dari organisasi Nahdhatul Wathan di atas.

Adapun calon haji dari organisasi Islam Al Mukhtariyah Al islamiyah, maqam pertama yang diziarahi yaitu maqam TGH. Afifuddin Adnan sebagai pendiri, lokasi maqam ini juga terletak di Mamben lauk, Pusat Yayasan ini pun berada di Mamben lauk juga. Setelah usai berdoa di maqam pendiri yayasan ini, lazimnya ziarah dilanjutkan ke maqam TGKH. M. Zainuddin Abd. Majid di Pancor, karena awalnya pendiri yayasan ini merupakan saudara angkat dari Maulanasyaikh. TGKH. M. Zainuddin Abd. Majid, Pendiri yayasan ini pun dikabarkan pernah belajar pada Maulanasyaikh. Selanjutnya Ziarah dilanjutkan ke maqam-maqam bersejarah lainnya seperti yang dilakukan organisasi islam yang di atas.

Begitu pula dengan organisasi islam Nahdhatul Ulama yang ada di Lombok Timur, maqam-maqam yang diziarahi juga tak jauh beda, maqam yang pertama diziarahi biasanya maqam Hamzanwadi di Pancor barulah beranjak ke maqam-maqam yang lainnya. Karena awal terbentuknya Nahdhatul Wathan mengadopsi semangat perjuangan dari Ormas Nahdhatul Ulama, tak heran Nahdhatul Ulama yang berpusat di Jawa memiliki banyak kesamaan dalam hal Fiqhiyah dengan Nahdhatul Wathan yang berpusat di Lombok.

Beragamnya organisasi massa Islam yang berkembang di masyarakat lantas tidak langsung menyebabkan perpecahan atau renggangnya ukhuwah dalam kehidupan sosial di masyarakat, namun itu dijadikan sebagai ajang untuk fastabiqul khairat karena semua organisasi Islam ini memotivasi untuk selalu beramar ma'ruf dan nahi munkar dalam kehidupan sehari-hari, dan dalam perkembangannya selalu berinovasi dalam upaya memajukan semangat kebaikan. Acara ziarah maqam ini juga merupakan sarana pemersatu masyarakat yang beragam tadi, dalam satu kampung misalnya ada salah satu calon haji dari beberapa organisasi tadi, maka yang mengikuti ziarah maqam bukan hanya yang dari simpatisan organisasi yang dimasuki calon haji tadi,  akan tetapi semua warga di kampung tersebut yang mempunyai kesempatan untuk ikut akan disambut baik atas kehadirannya ikut mendoakan calon haji.

Acara ziarah maqam calon haji ini bisa dikatakan rekreasi atau wisata Syariah masyarakat yang mengharap dapat imbas berkesempatan seperti calon haji mendapat panggilan Allah SWT. Sugesti masyarakat kita yang tetap tertanam semangat fastabiqul khairat ( berlomba-lomba dalam kebaikan) salah satunya melalui ziarah ke maqam-maqam bersejarah para alim ulama' dan peninggalan budaya Islam yang terdahulu, sebagai bentuk masih melekatnya budaya Islam dalam masyarakat kita,  di tengah maraknya budaya barat/budaya glamour yang merambah ke masyarakat kita saat ini.

Ziarah maqam ini merupakan tradisi turun temurun bernilai ibadah, walaupun sebagian aliran Madzhab mengatakan tidak boleh bertawassul (berdoa melalui perantara) di maqam-maqam para Ulama, Ulama fiqh dalam Mazhab Syafii yang dikuti rata-rata organisasi islam di Nusantara mengatakan itu hal yang dibolehkan berdoa mengunjungi maqam para alim-ulama untuk mendoakan mereka lebih-lebih mendoakan diri sendiri dan para jamaah yang ikut berziarah. Di samping itu ziarah ke maqam-maqam bersejarah tersebut sebagai bentuk pelestarian peninggalan budaya dahulu agar tetap eksis sebagai bagian dari khazanah keragaman budaya kita. Jika maqam-maqam maupun tempat bersejarah tersebut tidak lagi dikunjungi maka tak heran tempat-tempat tersebut akan hilang dengan sendirinya karena tidak ada lagi yang mengenang dan merawatnya, jadi kontribusi penziarah juga sangat besar dalam pelestarian warisan budaya ini.

Prosesi selanjutnya yang diadakan oleh calon haji yaitu acara syukuran atau begawe Haji dengan mengundang seluruh warga untuk membantu mempersiapkan segala macamnya. Acara syukuran ini pun mengundang seluruh kerabat calon haji baik yang dekat maupun yang jauh. Tamu yang diundang atau orang yang datang begawe ini yang perempuan biasanya membawa beras dalam wadah baskom dan nampan aluminium kecil di atasnya tempat gula pasir, lalu tamu yang laki-laki lebih simple hanya membawa amplop yang telah diisi dan di masukkan ke kotak yang telah disediakan. Menghadiri undangan begawe ini istilah dalam bahasa sasaknya disebut langar dan barang atau amplop yang dibawa tamu itu disebut pelangar. Acara begawe syukuran calon haji ini biasanya dilaksanakan maksimal sebulan sebelum keberangkatan calon haji, tergantung pada kesiapan calon haji dan keluarganya.

Adapun dalam masa menunggu keberangkatan setelah diadakannya begawe, calon haji tetap mendapatkan kunjungan-kunjungan dari kerabatnya sebagai bentuk ucapan selamat atas kesempatan mendapat panggilan Allah SWT untuk melaksanakan haji. Lalu satu minggu sebelum keberangkatan diadakanlah acara Tahlilan di rumah calon haji sebagai bentuk sumbangan doa, acara tahlilan sebelum keberangkatan haji ini istilah sasaknya disebut berame-rame. Ketika mengahdiri acara berame-rame warga yang berkunjung akan melakukan salaman dengan calon haji, masih dengan harapan yang sama semoga memperoleh kesempatan berhaji seperti calon haji yang disalami. Calon Haji biasanya duduk di dekat jalan masuk sebelum ke tempat berame-rame yang telah disediakan agar memudahkan orang yang akan salaman kepadanya. Acara berame-rame ini biasanya dilaksanakan sampai 2 hari  setelah keberangkatan atau setelah calon haji sampai di kota Makkah. Acara berame-rame setelah diisi dengan Tahlil dan Doa, lalu diikuti dengan pembacaan hikayat-hikayat berisi perjalanan hidup Rasulullah SAW dari kitab-kitab terdahulu yang menggunakan Bahasa Sasak. Pembacaannya pun berirama seperti lagu, ada yang membaca secara termaktub dalam kitab hikayat tersebut, lalu ada yang bertugas sebagai penterjemah dan jamaah lainnya yang hadir bertugas meramaikan pada saat pembacaan Shalawat, pembacaan hikayat ini dalam bahasa sasaknya disebut monyeh atau memace nya’er.

Selanjutnya pada hari keberangkatan calon haji ke tanah suci Makkah semakin ramai yang berkunjung kepada calon haji. Warga pun tak ketinggalan ikut mengantarkan, ada yang sampai ke tempat berkumpulnya Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH), ada yang sampai ke Asrama Haji yang ada di daerah, Keluarga dekat dan Tokoh-tokoh Agama maupun Tokoh Masyarakat biasanya mengantarkan sampai ke bandara atau pelabuhan, ketika perjalanan masih menggunakan kapal laut seperti yang diceritakan orang-orang tua kita dulu. Doa pun tetap teriring untuk jamaah haji yang telah diberangkatkan tersebut.

Ketika jamaah haji sudah kembali ke kampung halaman pun tak kalah ramainya disambut warga, salamanpun tak henti-hentinya untuk mereka. Lalu warga berkumpul kembali di rumah Haji tersebut, bukannya bermaksud mendapatkan oleh-oleh akan tetapi ingin mendengar cerita keindahan dan perjuangan selama melaksanakan ibadah haji. Untuk itu jamaah haji yang pulang juga dituntut untuk bisa bercerita dan berbagi pengalaman, motivasi, di samping gelar kegamaan yang telah tersemat dalam dirinya. Barulah ketika koper jamaah haji telah sampai ke rumahnya 2 atau 3 hari setelah kepulangan, acara selanjutnya yaitu berbagi oleh-oleh dari Makkah seperti air Zam-zam, Kurma, Sajadah, Tasbih, Surban untuk warga yang sudah berhaji, dan mainan-mainan bernuansa Arab untuk anak-anak kecil keluarga dekat jamaah haji.

Tradisi-tradisi baik seperti ini seyogyanya tetap terjaga dalam masyarakat kita sebagai bentuk nilai solidaritas dalam membangun persatuan dan merekatkan ukhuwah dalam masyarakat kita. Untuk itu sebagai generasi muda yang sadar dan peduli akan khazanah budaya kita, semangat untuk pelestariannya perlu ditanamkan dari sekarang sebagai pembelajaran dalam menjaga khazanah tersebut

Jalan Sunyi Si Pendidik

sumber :digaleri.com Baim Lc*  Dia tertegun, matanya tertuju pada amplop yang dibagikan oleh pihak komite tadi pagi. Nominal ya...