Selasa, 26 April 2016

Mayat-mayat Busuk



Gelap masih menyelimuti, bahkan kokok ayam pun belum terdengar, hanya sesekali bunyi tokek yang menggelegar bersembunyi di antara tiang-tiang penyangga atap rumah tanpa langit-langit. Lampu redup aliran dari listrik tetangga sengaja tidak dia matikan, dengkuran anak-anaknya tergolek dengan nyenyaknya walau beralaskan tikar pandan anyaman sendiri. Inaq  Mar segera bangkit, bergegas menuju dapur tempat penyimpanan perlengkapannya untuk menambang pasir. Sebuah nampan plastik berlubang semacam ayakan dan sekop menjadi peralatan hariannya, lalu berjalan ke luar rumah meninggalkan anak-anaknya yang masih pulas.
Keluar dari gang-gang yang lengang menuju jalan kampung, di sana sudah menunggu dua orang lainnya. Siap menjalankan rutinitas di pagi buta mereka, tiga ibu-ibu yang telah ditinggal mati suami itu biasa bertemu di belokan persimpangan, tempat strategis untuk mereka saling menunggu. Inaq  Mar, Inaq  Icah dan Inaq  Ran selanjutnya berangkat menuju lokasi penambangan pasir di sungai yang berjarak sekitar 800 meter dari kampung mereka. Kadang mereka berangkat berlima atau berempat bersama Inaq  Min, Inaq  Ida, namun yang rutin tiap pagi buta hanya mereka bertiga. Lahan kosong sekitar sungai milik seorang janda pula yang ditinggal mati suaminya akibat sakit yang tak kunjung sembuh.
Pagi buta mereka berangkat menambang pasir, selesai shalat shubuh di lokasi penambangan mereka melanjutkan sebagai pembuat bata merah di tanah lapang milik seorang pengusaha di kampung tersebut. Lakon hidup seperti itu sudah lama mereka jalani, bahkan sejak suami mereka masih ada. Hanya selingannya ketika musim tanam padi suami mereka lebih banyak dibutuhkan sebagai buruh tani, begitu juga ketika musim tanam tembakau dan cabe, tenaga mereka yang sudah cukup lama sebagai buruh tani cukup diandalkan oleh pemilik lahan untuk mencangkul, sampai menyiangi rumput (Ngeder) pada tanaman tembakau dan cabe mereka.
Kalau dahulu uang dari hasil buruh tani suami mereka bisa sebagai tambahan memenuhi kebutuhan harian, sekarang mereka harus berjuang sendiri menanggung kebutuhan-kebutuhan itu. Inaq  Mar dengan 3 tanggungan anaknya yang masih sekolah setingkat MI dan MTs. merasa tidak betah jika harus menyerahkan ketiga anaknya untuk tinggal di Panti Asuhan, maka dia lebih memilih untuk mengurus mereka di samping membantu juga ketika mereka pulang sekolah sebagai penambang pasir, namun nama mereka tetap terdaftar di Panti Asuhan tersebut. Begitu juga dengan Inaq  Icah, dua anaknya yang sekarang duduk di bangku MTs. dan MA, anak mereka lebih memilih untuk tinggal bersamanya dari pada di Panti asuhan. Sedangkan Inaq  Ran anaknya sudah tidak ada lagi yang sekolah, akan tetapi jauh, merantau sebagai TKI di negeri tetangga.
Menjelang pukul setengah 4 pagi sebelum sampai di lokasi penambangan, di tanah lapang yang dulunya banyak tumbuh pohon akasia dan Imbe mereka melihat beberapa orang dengan pakaian hitam dan ikat kepala sedang berjalan tertatih-tatih menuju arah yang mereka tuju juga. Tak sedikitpun mereka khawatir akan orang-orang itu dan terus saja melangkahkan kaki, dan sekarang hanya berjarak 10 meter dari mereka. Namun sebelum mereka melangkahkan kaki lebih dekat, orang-orang itu lebih dulu berbalik arah menghadang mereka. Sontak mereka kaget, wajah-wajah asing yang tidak terlalu jelas terlihat, awalnya mereka kira dari kampung sebelah, sehingga mereka tenang saja melanjutkan perjalanan. Naas orang-orang tersebut rata-rata membawa golok yang lebih panjang dari lengan-lengan mereka.
"kalian mau ke mana bawa-bawa sekop?". mereka bertiga bertiga masih terdiam karena takut, gerombolan itu lebih dahulu menyapa dengan golok yang digenggam sekarang sudah tidak lagi bersarung. Dalam kepercayaan orang kampung, jika bertemu dengan orang yang tidak dikenal pada tengah malam di kampung mereka, tidak dianjurkan untuk menyapa terlebih dahulu. Kepercayaan yang melekat di masyarakat, jika itu adalah pencari rizki malam hari (Maling), bisa-bisa mereka mendapatkan kesialan, dan orang yang menyapa itulah biasanya tempat mereka menyimpan dendam.
" Mohon maaf mamiq-Mamiq (bapak-bapak), kami tidak tahu apa-apa, kami hanya akan ke sungai untuk menambang pasir, untuk cari makan juga". Inaq  Mar memberanikan menjawab sambil gemetaran, memelas pada gerombolan tersebut setelah dibentak beberapa kali.
" Kalian tahu jalan ke mana tembusan jika menelusuri sungai ini?". Salah satu dari mereka mulai tampak tenang nada bicaranya, namun golok di tangan tetap siaga.
Inaq  Mar mencoba menjelaskan dengan terbata-bata sepengetahuannya tentang jalur-jalur tembusan ke beberapa kampung tetangga yang dipisahkan oleh sungai dan area perbukitan tempat mereka di hadang tersebut.
" Kalian tahu desa gampingan tidak?, siapa yang terkenal hebat jadi pepadu (jagoan) di sana?". Orang yang cukup tua mengarahkan senter sambil membentak mereka dengan interogasinya. Jelas saja membuat ibu-ibu tersebut semakin menggigil ketakutan, tak disangka mereka akan menemukan kejadian seperti itu ditengah perjuangan mereka untuk mencari rizki di tambang pasir.
" Mohon maaf mamiq ndak kami tahu apa-apa di sini, kami sekedar keluar malam untuk ke sungai, ndak kami pernah tahu pepadu-pepadu juga, kami sekedar cari rizki juga mamiq". Kali ini Inaq  Ran yang menjawab sambil tersengguk-sengguk gemetaran karena golok diarahkan kepadanya, tampak mengkilat disorot senter mereka.
" kalau begitu kalian tahu pak asdak tidak, katanya dia juga pepadu di kampung Klabang, dekat kampung kalian, atau kalian salah satu saudaranya juga". Sepertinya mereka menaruh dendam pada nama yang disebutkan tersebut.
" Kami hanya pendatang mamiq di kampung ini, kami tidak kenal banyak orang, sebab kami banyak bekerja di luar rumah untuk mencari nafkah, kampung klabang juga kami tidak tahu orang-orang di sana". Inaq  Ran tambah memelas dengan jawabannya, namun tak membuat para gerombolan itu beranjak dari tempat mereka.
" ayo kita lanjutkan saja perjalanan kalau begitu, nanti keburu pagi". salah seorang dari mereka mengusulkan, sebab sudah terdengar dari jauh kokok ayam dari kampung sebelah.
" Sebentar, kita tanya jalan dulu supaya lebih cepat sampai"
" jangan sampai ibu-ibu ini bercerita kepada yang lain. kalian tahu jalan lebih cepat ke kampung sari tidak?". Orang yang lebih tua itu semakin membentak.
" Lewat sungai ini bisa miq, lurus saja menelusurinya atau jalan lewat hutan itu juga bisa". Inaq  Mar seperti tertarik untuk menjelaskan lebih jauh tentang jalur tersebut. Dia sempat terpikir barangkali gerombolan tersebut memang berasal dari kampung yang disebutkan, sebab kampung tersebut cukup dekat dengan kampung mereka. Namun kenapa mereka bertanya jalur ke sana, jika mereka memang berasal dari sana. Kebingungan membayanginya.
" tinggalkan saja ibu-ibu ini, gajo, jili kalian berdua angkat mato, sime gendong si baha". Orang yang cukup tua tadi segera memerintah.
" Kenapa tidak tinggalkan saja mato di sini?". ucap salah seorang dari mereka. Namun pimpinan mereka tadi langsung melayangkan tangan ke arah orang yang berbicara tadi. Sempat terjadi perdebatan, gerombolan itupun berjalan ke arah jalur menuju sungai tempat menambang pasir, namun mereka berbelok masuk ke hutan akasia, tidak sampai menuruni sungai.
Sementara Inaq  Icah sejak awal hanya terdiam dan menjongkok. Tiba-tiba dihadang di tempat yang sepi oleh segerombolan orang tak dikenal dengan senjata tajam, jelas saja semakin membuat lutut tuanya lemas seakan terlepas dari persendiannya. Syukurnya mereka hanya diinterogasi dengan bentakan, tidak kena sabet ataupun pukulan dari gerombolan tersebut. Setelah gerombolan itu menghilang Inaq  Icah langsung memuntahkan isi perutnya yang sejak tadi berusaha ditahan. Dia melihat dengan jelas isi perut anggota gerombolan tadi yang robek perutnya dan dingkat oleh dua orang temannya dengan sarung yang sudah bersimbah darah. Sementara yang digendong itu terluka parah di bagian punggung dan pahanya, baju yang dikenakan tampak basah bersimbah darah segar.
Keringat dingin mereka yang sejak tadi tertahan terasa semakin dingin tertiup angin. Mereka saling membantu memapah Inaq  Icah yang terduduk lemas setelah muntah tadi. Inaq  Ran menyarankan agar mereka kembali saja ke rumah membawa Inaq  Icah yang masih lemas, namun Inaq  Icah bersikukuh agar mereka melanjutkan saja perjalanan ke sungai yang sudah cukup dekat. Suara loudspeaker dari masjid-masjid sudah mulai terdengar mendengungkan bacaan-bacaan Qur'an dari kaset yang disetel. Walaupun masih shock dengan kejadian tadi,  namun mereka langsung saja terjun ke sungai. Dengan ayakan plastik mereka mengorek pasir yang terkumpul di dalamnya lalu ditumpuk di pinggir sungai.
Tak lama adzan shubuh pun berkumandang, mereka bertiga keluar dari sungai sejenak mengunggu sampai adzan selesai. Waktu adzan berkumandang adalah panggilan sakral yang harus mereka penuhi sesibuk apapun itu. Itu sudah mereka pegang teguh sejak mereka mendapatkan pendidikan agama waktu kecil. Meskipun pendidikan mereka rendah,  namun perjuangan dan keistiqomahan mereka menjalankan perintah agama sangat mereka jaga. Secara bergantian mereka pun shalat shubuh di dekat tebing yang di sana tersedia berugak dengan bale-bale bambu jadi alasnya dan anyaman ketaring dari daun kelapa di atas bale-bale tersebut. Sajadah dan mukenah rupanya sengaja ditinggalkan di sana.
Belum cukup untuk satu truk pasir yang dikumpulkan, kumandang shalawatan dari masjid-masjid menandakan selesainya acara shubuh dan mtahari hampir menyingsing di ufuk timur. Ibu-ibu tersebut sepertinya mesti meninggalkan lokasi penambangan. Satu persatu keluar dari sungai, biasanya waktu seperti itu penambang lainnya juga sudah datang ke sana, namun saat itu hanya ada mereka bertiga, bahkan sampai mentari sedikit-demi sedikit menampakkan merahnya masih juga belum ada yang datang.
Ketika melewati tempat kejadian tadi pagi mereka saling pandang, melihat darah yang masih berceceran di rumput yang menguning sebab hujan belum juga turun. Bau amis darah mulai tercium memaksa mereka mempercepat langkah. Sampai di lokasi pembuatan bata merah matahari sudah cukup terang, barulah mereka sadar ternyata muka mereka bertiga masih terlihat pucat. Hawa ketakutan tadi pagi masih belum hilang dari kepala mereka. Namun begitu tanpa membuang waktu mereka segera mengolah adonan tanah liat yang telah direndam sejak siang kemarin, lalu dicampur dengan tanah yng telah diayak sore harinya siap dicetak menjadi bata dengan cetakan kayu yang telah siap untuk mereka di masing-masing lahan. Anak-anak mereka dengan peci dan mukenah masih terpakai, sepulang dari mengaji shubuh segera menemui mereka di tempat pembuatan bata dan ikut membantu semampunya sebelum berangkat ke sekolah.
Mungkin hanya itulah keahlian yang mereka miliki untuk mempertahankan hidup. Perjuangan itu cukup mereka nikmati selama ketenangan hidup bersama anak-anaknya untuk makan 2 kali sehari sudah dapat terpenuhi. Tak peduli program-program pemerintah yang heboh-hebohnya tentang Jaminan kesehatan, kartu pintar, kartu miskin ataupun rumah kumuh seperti yang mereka dengar namun tak kunjung didapat. Mereka masih istiqomah bangun pagi buta dan melanjutkan sebagai pembuat bata merah, selesi masak untuk makan siang sampai malam mereka datang kembali ke lokasi penambangan. Peluh tak terkira, tenaga dan tekad tetap mereka kuras demi mendapatkan untuk beli makanan yang layak bagi anak-anak mereka. Tak jarang dari mereka sembari menunggu kantuk di malam hari masih dilanjutkan dengan membuat anyaman tikar pandan yang dihargai 12 -15 ribu, itu pun bisa jadi dalam jangka 2 sampai 3 hari.
Perjuangan mereka yang tak kenal lelah, istirahat hanya sekedarnya, inilah yang patut disematkan, istirahat bagi mereka hanyalah ketika sudah menginjakkan kaki di surga. Mereka dan orang-orang sekitarnya jadi saksi atas itu, walaupun kadang banyak dari orang sekitarnya yang acuh dan menganggap biasa perjuangan mereka. Namun mereka tak peduli, Cukuplah Tuhan menjadi saksi atas keikhlasan mereka.
Dua hari berlalu setelah kejadian itu, siang hari yang lengang tiba-tiba gempar ketika salah seorang warga kampung yang sedang mencari rumput untuk ternaknya membeberkan pada orang kampung dia menemukan mayat yang ditutupi oleh dedaunan di dekat sungai sekitar areal perbukitan tempat pemakaman Umum. Bau busuk yang menyengat tak menyurutkannya untuk terus menyabit rumput sekitar sungai, alangkah kagetnya ketika yang diinjak semakin memunculkan bau menyengat, setelah dibongkar terlihatlah mata terbelalak, dengan muka yang hamipr hancur tak dikenali. Seketika warga kampung geger dan bergerombol menuju tempat penemuan mayat tersebut meski panas menyengat dan harus menyusuri areal pemakaman untuk sampai di sana.
" Mau ke mana ibu-ibu, ndak ikut melihat mayat katanya di kuburan?". Salah seorang ibu-ibu menegur mereka ketika berpapasan menuju arah yang berlawanan.
" Iya memang mayat tempatnya di kuburan kan bu". jawab mereka sekenanya.
Di saat warga berbondong-bondong untuk menyaksikan penemuan langka yang menjadi tontonan tersebut, tidak bagi mereka bertiga, siang itu mereka tetap melanjutkan perjalanan menuju sungai tempat menambang pasir. Tidak ada rasa penasaran, bahkan untuk memastikan apakah mayat tersebut sama dengan mayat yang mereka temui pada kejadian malam itu. Tak peduli kehebohan itu yang penting mereka harus tetap bekerja, barangkali siang itu nasib baik berpihak, pasir mereka ada yang membeli. Sampai langit sore hampir memudar barulah mereka beranjak untuk pulang, mensyukuri hari itu bahwa mereka masih mendapatkan kesempatan untuk terus berjuang melawan kerasnya hidup untuk menanggungng anak-anak mereka.
Kegigihan, keteguhan dan perjuangan menyiratkan takluknya derita pada diri mereka. Hal besar yang bisa diusahakan perempuan-perempuan kampung di tengah tekanan hidup menyusul tingginya kebutuhan yang harus mereka penuhi. Malam pun semakin merangkak membawa kidung cerita mereka bersama riuhnya binatang malam di kampung terpencil itu.

Sabtu, 12 Maret 2016

Semangat Berbagi Sang Tukang Ojek



Di tengah kebingungan pagi itu mencari teman yang bisa menemani untuk mengambil Laptop di Servis center acer, beberapa teman tampaknya cukup sibuk, sehingga dari pada merepotkan orang lain, saya putuskan mencari alternatif lain (nekat pergi sendiri, walaupun baru 2 minggu berada di Jogja). Pikir saya jika menggunakan Taksi sepertinya kemahalan, beruntungnya ada teman yang memberitahukan dia mempunyai Ojek langganan yang cukup baik pelayanannya, dia pun memberikan nomor kontak tukang Ojek tersebut. Tanpa berpikir panjang saya pun mencoba menghubungi kontak tersebut, menggunakan ojek sepertinya lebih efektif waktu juga.

" Mohon maaf pak, saya bermaksud untuk memesan Ojek, kebetulan mendapat kontak bapak dari teman saya yang katanya sudah berlangganan sama bapak". Saya pun menyebutkan nama teman tersebut, sehingga tukang ojek tersebut cepat paham.

" owh iya mbak, memangnya mau ke mana?"
" Mau ke jalan Ring road Utara Jogja, Servis Center Acer tahu pak?, kira-kira ongkosnya berapa ya?"
" Tahu mbak, 15 Ribu bagaimana?, jadi kalau pulang-pergi 30 Ribu mbak, di mana saya bisa jemput?".

" Di depan Kampus UNY pak gedung LPMP, tapi sekitaran pukul 12. 40 pak ya". Tanpa tawar menawar harga saya pun mengiyakan menggunakan jasa tukang ojek tersebut.

Tepat sebelum pukul 12.40 tukang ojek tersebut sudah SMS bahwa dia sudah di depan gedung LPMP UNY. Saya pun bergegas turun bersiap untuk berangkat. Untuk mencairkan suasana, Bapak Ojek Paruh Baya tersebut mulai membuka suara menanyakan tentang saya, Asli dari mana, kuliah di mana dan sudah berapa lama di Jogja. Saya pun menjelaskan secukupnya saja, tentang pengayaan dari Penyedia Beasiswa, dan baru beberapa minggu di Jogja. Saya ceritakan pula tujuan saya ke Servis Center Acer tersebut untuk mengambil Laptop yang sudah selesai diperbaiki.

Di sela-sela percakapan, saya pun menanyakan mengapa beliau tidak ikut saja dalam Organisasi GO-Jek Wilayah Jogja. Beliaupun menjelaskan sudah mempunyai usaha Ojek sendiri, sekarang armadanya ada 8 unit, dan punya karyawan juga. Di samping itu beliau menjelaskan kalau ikut Go-jek bisa dikatakan untungnya lebih sedikit, sedang bapak tersebut sudah punya langganan cukup banyak juga. Walaupun Go-Jek sedang merebaknya diminati, bapak tersebut tidak takut tersaingi, beliau menegaskan tidak perlu khawatir, Rizki sudah ada yang Mengatur.

Semacam interview dadakan, saya pun menanyakan dari mana saja langganan beliau tersebut. Ada yang dari Kalimantan, Jawa, Sumatra, Sulawesi, Makassar, serta banyak juga pegawai-pegawai yang menggunakan jasanya. Ada pula orang tua yang katanya sering menitipkan anaknya untuk diantar, kadang ada juga orang Jogja yang tidak tahu jalan dan sering nyasar meminta jasa beliau. Beliaupun menceritakan tentang teman saya yang memberikan nomornya, langganan tiap minggu diantar ke Gereja. Langganan-langganan tersebut sudah cukup mepercayai beliau sehingga tidak mudah untuk beralih menggunakan jasa Ojek lain.

Beliaupun menceritakan bahwa setiap hari Jumat usaha Ojeknya tersebut memberikan potongan harga bagi langganan atau penumpang yang menggunakan jasanya. Saya pun semakin penasaran dengan potongan yang dimaksud, bukankah itu akan membuatnya rugi dengan diskon 50 persen yang diberikan. Beliau menegaskan sama sekali tidak merasa rugi, bahkan pelanggan semakin senang jika diberikan diskon, sehingga kedekatan antara pelanggan dan beliau lebih erat lagi untuk saling mempercayai.

Beliau melanjutkan, penghasilan dari ojek tersebut setiap bulannya 50 % disisihkan untuk lembaga Sosial, seperti Panti Asuhan, Panti Jompo dan lembaga amal lainnya. Beliau menceritakan hal tersebut bukan bermaksud untuk pamer, akan tetapi sebagai sebuah motivasi bersama untuk terus menebar kebaikan. Beliau pun menjelaskan dengan disisihkan sebagian penghasilan tersebut, rizki yang didapat justru lebih berkah. Saya pun cukup terdiam dengan pemaparan beliau yang lebih menikmati rizki yang didapat dengan disisihkan juga untuk orang lain. Tak terasa kami pun sudah sampai di tujuan, saya pun meminta bapak tersebut untuk menunggu. Berselang sekitar 20 menit, Keluar dari Servis Center tersebut saya langsung menghampiri bapak tersebut.

" Mbak kita lewat jalur alternatif saja ya untuk menghindari macet, ini juga sedang panas-panasnya". Ucap beliau, saya pun hanya mengiyakan saja.

Dalam perjalanan pulang, beliau kembali menanyakan tentang keluarga saya, menanyakan berapa saudara saya. Saya pun menjelaskan bahwa saya anak terakhir dari 4 bersaudara, tak lupa saya pun balik bertanya berapa putra-putri beliau sekarang. Beliau pun menceritakan tentang keluarganya, dan sudah dikaruniai 6 orang anak, yang paling besar baru-baru kemarin lulus dari sekolah penerbangan dan yang paling kecil sekarang masih di bangku TK. Saya pun semakin kagum dengan kehidupan bapak ini, beliau merasa sangat bersyukur dari hasil usaha Ojek tersebut bisa membiayai anak-anaknya untuk dapat mengenyam pendidikan yang lebih baik, tidak seperti dirinya. Namun saya cukup salut dengan kehidupan sederhana beliau, dengan Keimanan Sosial yang tinggi, berharap keberkahan Rizki yang didapat, beliau rela menyisihkan sebagian penghasilannya setiap bulannya untuk berbagi dengan orang lain.

Saya pun semakin tersadar, kita tidak cukup dengan banyak harta untuk mendapatkan kebahagiaan dan keberkahan hidup. kita hanya cukup hidup sederhana dan berbagi kepada orang lain, maka kebahagiaan dan keberkahan itu pun semakin terasa dalam kehidupan kita. Setidaknya pelajaran sederhana ini sebagai ibroh untuk semakin berbenah bagi kita untuk memupuk semangat berbagi.

Di Balik Hati Seorang Perempuan



terkadang Mencintai itu mudah, tapi
melupakan cinta sungguh sulit.
langit sore masih menampakkan mendung menjanjikan hujan di kala petang, akan tetapi yang ditelurkan hanyalah rintik-rintik kecil membuat suasana kembali kelam ditemani gemuruh bersahut-sahutan.
aku terhenyak duduk di teras rumah menatap bunga2 bermekaran menambah indah suasana sore itu. suara riuh ayam tetangga memecah suasana menjadi hingar ketika ternaknya kembali ke peraduan. tiba2 ponselku berdering pertanda sebuah pesan masuk. ternyata dari dina kawan lamaku yg kini sudah berkeluarga dan sebentar lagi akan menjadi seorang ibu,

"hai gimana kabarnya?. dina". begitu isi smsnya dina yang menggunakan nomor baru.
"waalaikumussalam. Alhamdulillah baik, side gimana?". balasku sekenanya.
"cueknya sekarang ych".dia kembali membalas karena memang dulu sehari saja tidak di sms atau dihubungi melalui facebook dia langsung melabraku dengan memvonisku cuek terhadapnya.
"cuek gimana?, malu sih kita ganggu orang udah berkeluarga, ntar suaminya jealous lagi,, haha"
"owh jadi gitu ya sekarang, walau bagaimanapun kita tetap kan harus menjalin silaturahmi, kangen banget sama kamu"
smsnya yg terakhir tak kubalas, entahlah kalimatnya yg terakhir membuatku kelu tak bisa mengungkapkan kata-kata. ingatanku melambung 5 tahun lalu ketika awal kita bertemu, gadis mungil dengan jilbab besar tergerai menutup sebagian badan menyapaku ketika sedang mencoba mencari tanda tangan dosen PA ku, entahlah aku merasa asing tanpa kenal siapapun di awal masuk kampus, karena kegiatan persiapan sebelum memulai perkuliahan tak pernah kuikuti dan lebih senang nongkrong di pepustakaan kota. ketika aku sedang berdiri di depan jendela jurusan melirik-lirik jadwal yang tak kupahami urutannya karena terlalu banyaknya program studi pada fakultas tersebut, tiba-tiba dia datang menghampiriku entah ingin melihat jadwal juga atau melirik ke dalam ruangan melalui jendela untuk mencari orang yg dituju.
"jurusan apa kak?"

"psikologi, anda?"

"wah sama dong, semester berapa?"
"semester 1, kalo anda?"
" sama, semester 1 juga, kok kakak gak pernah keliatan" dia masih konsisten memanggilku kakak, entah niatnya mungkin untuk menghormatiku.
"iya kemaren gak pernah ikut persiapan, males juga ke kampus, gara-gara belum dapet kos-kosan"
"pantesan saja rambutnya masih panjang itu, temen-temen yang lain itu liat pada botak dicukur kemarin"
"yang cewek gak dicukur juga,, hehe" candaku kepadanya.
"ya nggak lah kan kita pake jilbab, terus ngapain disini?"
"ini liat jadwal yang sangat membingungkan gimana cara bacanya,, hehe"
" owh itu, ntar saya kirimin jadwal kita, mana nomor HP nya". tiba-tiba dia langsung ingin berbaik hati mengirimkanku jadwal kuliah kita.lalu kusodorkan ponselku ke dia untuk mencatat nomor Handphoneku.
lama kuliat dia mengutak-atik HPnya untuk menyimpan nomorku, kupandang sekilas wajahnya yang teduh seperti tidak asing dalam ingatanku. pas dia mengangkat muka pandangan kita beradu dan ketahuan aku sedang menatapnya.
"mana dong jadwalnya?". tanyaku mencairkan suasana.
"ntar ya belum ada pulsa ini untuk ngirimnya,,hehe"
"oh iya dah kalo gitu, terus mau kemana setelah ini"
"ini masih nunggu dosen untuk minta tanda tangan rencana studi, side kemana?"
"sama juga, siapa pembimbingnya?"
"pak edy, kalo side siapa?"
"saya pak arif, tapi ndak tahu mana ya namanya pak arif"
"itu ada kakak tingket yang sama juga dosen pembimbingnya, kak handiii,, " orang yang dipanggil menoleh, "saya tanyakan ke kak handi dulu ya mana namaya pak arif". dia beranjak meninggalkanku namun tasnya masih ditinggalkan di sampingku. tampak kulihat dia ngobrol sambil sesekali tertawa dengan kakak tingkat tersebut, lalu dia kembali menghampiriku.
"pak arif belum datang katanya kak handi"
"darimana saya tahu kalo pak arif udah dateng?, sekarang ya batas pengumpulan rencana studi?"
"orangnya Tua, biasanya pake kopiah haji dibilang sama kak handi, ndk apa-apa kita tunggu sampai beliau datang"
"side udah ada gak dosen pembimbingnya di dalam?"
"belum juga, biasanya beliau agak siangan datangnya, dicek saja lagi rencana studinya, kali aja ada yang salah". kubuka kembali lembar rencana studiku, dia pun ikut memperhatikannya.
"kok mata kuliahnya bisa kurang?, kita kan sudah dipaketkan, ini liat punya saya". sambil menyodorkan lembar rencana studinya kepadaku."jangan lupa gelarnya juga ditulis orang dah capek-capek kuliah,, hehe"
"iya ini mau ditulis" tulisannya tampak sangat rapi, kulirik tangannya, putih mulus dengan jari-jari pendeknya.
"eh itu pak edy udah dateng, saya minta tanda tangan dulu ya, jagain tas saya". dia tampak agak tergesa-gesa masuk ke ruang jurusan, sementara aku masih terpaku duduk sendirian. selang beberapa menit dia sudah kembali lagi.
"itu pak arif udah ada di dalam, ayo cepat sana"
"masak?, yang mana tapi namanya pak arif"
"itu yang duduk deket jendela pake kaca mata itu" dia mengantarku sampai pintu ruang jurusan, lalu akupun berlalu masuk meninggalkannya untuk meminta tanda tangan.
"setelah ditanda tangani ketua prodi bawa ke saya satu sebagai arsip nak ya" kata dosen PA ku, namun aku malu untuk menanyakan kepada beliau yang mana ketua prodi, akhirnya aku keluar ruangan berharap dia masih ada di luar menungguku, ternyata dia masih duduk di tempat kami tadi.
"yang mana ketua prodi?"
"astaga,, saya kira udah tahu juga tadi, itu bapak yang duduk di tengah itu lho". akupun kembali ke dalam untuk meminta tanda tangan ketua prodi. lagi-lagi dia masih duduk disana, entah dia menungguku atau mungkin ada urusan lain yang membuatnya bertahan di sana.
"udah selesai dua-duanya?"
"iya udah, terus kemana setelah ini?"
"kita kumpulkan ke akademik, ndak tahu juga kan?,, hehe".
"iya, kemana emang?"
"ayok nurut aja,". masih dengan senyum manisnya, dia mengajakku melewati lobi kampus menuju ruang akademik.
"kan itu sudah ada keterangannya yang 2 lembar kita kumpulkan di sini, mana berkasnya biar saya saja yang kumpulkan" ungkapnya, padahal di ruangan itu penuh sesak dengan mahasiswa dari berbagai prodi.
"sudah beres deh"
"habis ini mau ke mana?"
"ada acara di mushalla sama akhwat-akhwat yg lain, side ke mana?"
"saya pulang dah kalo gitu"
"oh iya sudah hati-hati ya" katanya tanpa berniat mencegahku untuk cepat pulang".
sampai di kos-kosan baru kutersadar aku seperti orang yang bodoh, tak tahu diri, bahkan ucapan terima kasih pun tak sempat kulontarkan padahal dia dengan setianya membantuku sampai selesai urusan rencana studi. dan yang paling kusesalkan, tak sempat kutanyakan namanya walaupun sampai setengah hari kita bersama. aku seperti terbius akan kebaikannya, memang tidak terlalu cantik tapi cukup anggun dengan dandanan muslimah sejati.
sejenak berfikir, harapanku masih ada untuk mengenalnya lebih jauh, melalui sms jadwal kuliah yang akan dikirimkan untukku, toh juga kita satu kelas dan masih banyak kesempatan untuk bertemu. sampai sore kutunggu belum ada juga sms jadwalnya untukku, kumulai berfikir mungkin dia lupa, atau mungkin belum punya pulsa, atau mungkin juga dia masih sibuk, dan aku masih setia menunggu karena memang sampai saat itu juga tak ada yang menghubungiku. setelah selesai shalat isya baru terdengar ada pesan masuk, berharap itu darinya. setelah kubuka ternyata nomor baru.
"kok ndk dibales :( "
"bales gimana?, mohon maaf ini nomornya siapa?" balasku mencoba sesantun mungkin.
"ini dina yang samaan tadi pagi di kampus". dina namanya, gadis mungil dengan jilbab tergerai.
"oh iya, mana dong jadwal kuliah itu,?"
"kan udah saya kirimin, masak gak ada?"
" iya ndk ada kok, emang side udah kirim kemana?" tanyaku memastikan.
"iya dah saya kirimin ulang ini" ucapanya, masih tetap berbaik hati padaku. setelah smsnya masuk baru kuucapkan terimakasih.
"terimakasih banyak mbak "
"kok panggil mbak kan udah saya kasih tahu nama saya tadi"
"oh iya siapa namanya tadi". pura-pura lupa.
"dina agniya, panggil aja dina, kalo ndk salah side namanya ali ya?". dia bahkan lebih dahulu tahu namaku padahal aku belum pernah berkenalan dengan teman kampus.
"kok tahu, perasaan saya gak pernah kasih tahu deh"
"tadi pagi pas lihat rencana studinya saya kan sempat lirik namanya, aliyuddin, trus di panggilnya apa nih ali, yudi atau udin?, hehe". dia mencoba membuat suasana lebih fresh dengan mengolokku.
"panggil aja al, panggilan dari sejak kecil". tak terasa kami keasyikan melakukan chating lewat sms sampai pukul setengah 1 dinihari, tampaknya dia orang yang asyik diajak ngobrol, mudah bergaul dengan siapapun. yang kita bahas padahal hal-hal biasa saja tetapi menjadi hal menarik ketika pembicaraan terlibat dengannya. akhirnya karena kantuk yang tak bisa kutahan beberapa smsnya yang terakhir tak sempat kubalas karena aku sudah terlelap.
                           *****
hari pertama memulai perkuliahan aku merasa malas untuk bangun, walaupun mentari dengan teriknya telah menerobos melalui jendela di kos-kosanku yang berada di lantai 2. kawan-kawanku yang lain sudah pada sibuk di luar dengan kesibukan masing-masing. baru beberapa menit hendak memejamkan mata lagi handphoneku berdering, sms masuk
"ingat hari ini kuliah psikoanalitik jam 07.30 di ruang F2". sms dari dina membangunkanku, aku masih terpekur berfikir apakah ke kampus atau melanjutkan tidur, bahkan smsnya diulangi sampai 3 kali berdatangan, entah karena jaringan yang sibuk atau dia memang sengaja mengirim 3 kali karena tak kunjung kubalas.
"iya makasih atas ingatannya". balasku sekenanya lalu bergegas ke kamar mandi untuk siap-siap ke kampus.
sesampainya di kampus aku bingung di mana lokasi gedung F2 tempat perkuliahan, setelah ku sms dina barulah kutahu letaknya. ternyata di dalam kelas sudah ramai dengan kawan-kawan yang lain semuanya tampak asing tak ada yang kukenal kecuali dina, bahkan diapun tampak acuh ketika aku memasuki kelas, dina tampak asyik mengobrol dengan teman sebelahnya.
setelah lama menunggu dosen tak kunjung datang akupun beranjak masih dengan kebisuanku tanpa mengacuhkan yang lain menuju keluar kelas, ketika hendak menuruni tangga sms dina datang dan memintaku untuk tetap di kelas. dari arah belakangku seorang bapak-bapak tampak menuju ruang F2, pikirku ini mungkin dosennya, ketika dia baru memasuki ruang F2 akupun mengikuti dari belakangnya dan mengambil posisi duduk paling belakang.
perkuliahan pertama berlangsung, cukup membosankan dan aku melewatinya hanya diam dibelakang mengikuti jalannya perkuliahan, tanpa terasa waktupun habis semua bersiap-siap untuk keluar begitu juga aku. dina kembali melayangkan sms untukku menanyakan mau kemana stelah ini, padahal bisa saja dia bertanya langsung kepadaku yang masih di dalam kelas.
"mau ke perpus, cari buku bagus ada wifi juga disana, mau ikut?" balasku untuk mengajaknya.
"ndak dah, saya diem di kampus saja, inget nanti jam 11 ada kuliah lagi di ruang A3" dia kembali mengingatkanku.
"iya". jawabku singkat diapun tak membalas lagi.sebelum jam 11 dia kembali memberitahuku untuk ke kampus karena kuliah sebentar lagi dimulai, tetapi aku tak menghiraukan sms-nya malah tetap asyik dengan bacaanku, walaupun dia mengulang sms-nya sampai 2 kali karena memang aku tak berniat mengikuti perkuliahan siang itu.
                               ******
tiga bulan berlalu dan kita sebentar lagi akan memasuki ujian tengah semester, sementara aku masih komitmen dengan jarang-jarang mengikuti perkuliahan. dan hal yang sedikit mengejutkanku terdengar dari bisik-bisik teman sekelas dina sudah berpacaran dengan doni, kakak tingkat yang sekarang semester 5. awalnya aku tak menghiraukan dan tak percaya dengan desas-desus yang diperbincangkan teman-teman sekelas yang sempat aku menguping, karena memang dina masih tetap setia dengan sms nya untuk menghubungiku bahkan hampir tiap malam, dan selalu saja ada hal menarik yang menjadi topik walaupun terkadang hanya sekedar menanyakan sedang apa. namun semua terasa benar ketika aku akan menaiki tangga untuk kuliah di ruang B2, kulihat dina sedang duduk berdua dengan laki-laki yang tampak lebih tua dariku, sepertinya kakak tingkat, dina tampak tersenyum-senyum dengan candaan-candaan yang dikeluarkan kakak itu. entahlah, aku tak mengerti apa yang bergemuruh dalam bathinku, terpesona akan anggunnya dina atau karena kebaikannya yang terus-menerus untukku, dan aku tetap mencoba sebiasa saja untuk menanggapi keadaan.
libur semester hanpir tiba, kami masih konsisten dengan kedekatan lewat sms tapi pada realitasnya kita hampir tak tegur sapa. ketika kami berpapasan di lantai 3 setelah semesteran dia sempat tersenyum membuka pembicaraan.
"liburan ini mau ke mana al?"
"pulkam lah, bosan di kota"
"saya ikut ya,, rumahnya di mana?". sudah satu semester kita bersama bahkan belum tahu alamat masing-masing, itupun luput dari pembahasan pada saat sms-an.
"di lotim, pandan sari, tahu?, ayok aja kalo mau ikut"
"beneran ini saya diajak?"
"iya boleh, tapi apa ya kata orang tua saya nanti kalau bawa cewek pulang, jangan-jangan dikira mau minta restu nanti"
"haha,, ndak jadi sudah kalau gitu, saya bercanda juga, ndak mungkin lah ikut side ke lotim"
"emang side rumahnya di mana?"
"disini deket kok sekitaran lobar, gelora namanya, kapan-kapan maen ke rumah ya"
"insyaallah, side mau kemana trus setelah ini"
"mau pulang langsung, ada acara di rumah tetangga, ikut?"
"kapan-kapan dah, saya juga langsung ke kos siap-siapin barang yang mau dibawa pulang nanti sore"
"oh iya dah, hati-hati di jalan, saya duluan ya, assalamualaikum"
"waalaikumussalam". padahal aku masih ingin lebih lama lagi untuk ngobrol dengannya.
                         *****
malam-malamku masih terisi dengan chating lewat sms dengannya, dan dia seolah tak pernah bosan menghubungiku. lalu dia mencoba mengalihkan pembahasan dengan menanyakan apakah aku sudah mempunyai seorang teman dekat cewek. terang saja aku kebingungan menjawabnya, bukankah dia juga teman dekatku yang selalu setia menghubungiku dan mengingatkanku jam kuliah. lalu dia mencoba menjelaskan lebih spesifik.
"al sudah punya pacar?"
"pacar?, belum pernah pacaran din,, hehe". balasku.
"oh bagus dah,"
"kalo dina gimana?, udah punya ya, kakak yang kemaren itu?" aku mencoba menyelidiki.
"kakak yang mana?, udah berhenti kok sama dia"
"oh gitu, kok bisa"
"ya udah berhenti aja, mungkin udah gak sejalan"
dia sengaja mengarahkan pembicaraan tentang itu, seolah-olah membuka ruang untukku.
waktu terus berlalu, kami sekarang menginjak semester 5, entah dari mana teman-teman tahu kedekatanku dengan dina. dan itu menjadi bahan pembicaraan di kelas yang jelas-jelas membuatku nervous menjadi bahan pembicaraan, bahan olokan teman-teman yang mencoba mencandaiku, dan biasanya aku hanya bisa tersenyum tersipu malu, tidak tahu mau menyanggah atau mengiyakan saja. akan tetapi sebenarnya hatiku bahagia mendengar teman-teman mencandaiku dengan menyandingkanku dengan dina, dina nampak lebih bisa menghadapi situasi bahkan dia ikut juga nimbrung di saat teman-teman mencandaiku, semakin membuatku kelu, diam menahan malu.
kami tetap menjaga kedekatan melalui sms, namun malu untuk bertegur sapa di dunia nyata. kadang dina sengaja mencari celah agar kita bisa bertemu, entah dengan sengaja meminta tolong sesuatu atau dengan alasan meminjam buku, saling tukar pinjam bacaan. dan pertemuan kitapun kadang singkat tak banyak pembicaraan lebih luwes melalui tulisan.
hingga menginjak tahun terakhir kedekatan kita masih terjaga, bahkan dina semakin lebih intensif menghubungiku kadang melalui telepon juga dengan dalih menanyakan sesuatu, begitu juga aku kadang merasa ingin lebih dekat dengan dina. di satu sisi aku merasa minder untuk lebih dekat lagi. suatu ketika salah seorang teman dekat dina melabrakku dengan menggebu-gebu mengatakan bahwa dina sangat menyayangiku dan banyak hal lagi yang diungkapkan seolah-olah mewakili perasaan dina yang ingin disampaikan kepadaku. aku masih diam tak tahu harus berkata dengan apa yang disampaikan rini, teman dekat dina.
"dina itu orangnya baik banget al, dia bahkan bisa memendam perasaannya sampai sekarang untukmu, bahkan dari semester 1 kalian betemu dulu dina sudah merasa nyaman sama kamu al, kamu juga suka sama dina kan". rini terang-terangan menginterogasiku tentang perasaanku kepada dina.
"entahlah rin, aku masih bingung, ndak tahu mau ngomong apa"
"tega kamu ya, sudah beberapa orang yang mencoba dekat dengan dina tapi semuanya ditolak secara halus hanya karena dia masih mengharapkanmu untuk mengungkapkan perasaan kepadanya, 4 tahun kita bersama dan itu bukan waktu yang singkat bagi dina memendam perasaan untukmu". kata-kata rini membuatku semakin bingung tentang perasaanku ke dina.
setelah rini memberitahuku tentang perasaan dina kepadaku, entah kenapa dina tak seperti dahulu, dina berhenti menghubungiku walau sekedar menanyakan kabar, seperti tercipta jarak antara kita. aku mencoba berfikir positif mungkin karena kita sama-sama sibuk dengan tugas akhir masing-masing. sampai hari wisuda akan berlangsung dina masih dengan diamnya dan akupun begitu. di ruang wisudapun tak sempat kutemuinya walaupun sudah kulirik kesana-kemari, akan tetapi suara dari speaker mengejutkanku ketika nama dina dipanggil untuk menyampaikan sambutan sebagai lulusan terbaik wisuda priode ini, hatiku bergemuruh, semakin minder dengan melihat dina berdiri di podium, tampak anggunnya, sementara aku hanyalah mahasiswa tunaprestasi, namun mengapa dina bisa memendam perasaan kepadaku selama ini.
setelah acara wisuda selesai kukirimkan pesan ucapan selamat untuk dina, dia tak membalasnya, kucoba telepon tak diangkat juga. kucoba lirik ke seluruh penjuru ruangan tak kutemui juga, aku pasrah meninggalkan ruangan wisuda, bahkan saat moment berharga tak kujumpa dirinya dengan sejuta perasaan rinduku yang membuncah. setelah itu aku dibayang-bayangi perasaan bersalah, menyepelekan hal-hal kecil tentang perasaan seseorang untukku. kuteringat lagi kata-kata rini kepadaku, 4 tahun kita bersama dan dina masih sanggup memendam perasaannya untuk menghrapkanku mengungkapkan perasaan kepadanya. aku merasa bodoh, egois, tidak peka dan salah membuat seseorang yang begitu baik terlalu lama menunggu.
sekarang aku yang lebih sering menghubungi dina, akan tetapi sikapnya sangat biasa, tak seperti dahulu, aku tetap menguasai perasaanku yang belum bisa kuungkapkan.
suatu malam, terinspirasi dari alunan lagu Padi dari laptopku "belumlah terlambat untuk mengerti, dan belum terlambat tuk menumbuhkan cinta" kucoba merangkai kata-kata untuk mewakili perasaanku kepada dina, dan akan kucoba kirimkan tengah malam nanti ketika dia sudah terlelap berharap paginya langsung dilihat. entahlah karena terbawa suasana sendu akupun terlelap juga tanpa sempat mengirimkan kata yang telah kurangkai untuk dina malam itu. selesai shalat subuh aku berniat melanjutkan misiku untuk mengungkapkan perasaan kepada dina. alangkah terkejutku ketika di handphoneku sudah ada sms masuk dari dina lebih dulu, hatiku semakin menggebu pertanda dina masih mau menghubungiku lagi walau sekedar melalui sms. namun semuanya terasa sirna setelah kubaca pesan yang dikirim dina pagi itu, kucoba menguasai perasaanku dan meresapi kata-kata terakhir pada sms dina, "saya sangat mengharapkan kamu bisa datang, mungkin ini terakhir kita bertemu". aku tersenyum, entahlah tersenyum bahagia, kecewa atau tersenyum konyol. hampir 5 tahun dia masih mengharapkanku untuk mengungkapkan perasaan dan sekarang di hari bahagianya aku akan melihat dia diijab qabul oleh orang lain, dia masih mengharapkanku untuk datang.
tiga hari sebelum hari pernikahannya dia kembali menanyakanku untuk datang, dan aku hanya mengatakan akan kuusahakan dan mengucapkan ucapan selamat untuk hari bahagianya. tepat di hari pernikahannya aku berbesar hati menghadirinya dengan mencoba sebiasa saja dan tetap tersenyum mencoba menguasai keadaan. setelah prosesi ijab kabul selesai tibalah saatnya untuk sang mempelai bersalaman dengan hadirin yang menyaksikan, tepat keduanya berhenti di depanku aku mencoba tersenyum, dina tampak membalasnya namun tergambar jelas dipaksakan. hatiku lega semua bisa terlewatkan, namun jantungku masih dipenuhi degupan kencang yang tak kupahami. aku mengikhlaskan dina untuk bersama yang lain, mencoba menghapus semua kenangan indahnya, mencoba tidak memendam kecewa yang mendalam toh juga karena ketidak pekaanku yang membuat cinta tidak bisa berdiri diatas ketidak jelasan hatiku untuknya. namun satu hal yang membuatku tersenyum, yang kutahu dia selama ini mampu menyimpan perasaannya untukku. memang hati perempuan sungguh ibarat lautan yang dalam, yang mesti diselami untuk mendapatkan mutiara terindah darinya, dan ketika mutiara itu telah kau dapatkan dia tidak akan berpaling darimu. berbahagialah memiliki perempuan-perempuan terindah yang senantiasa menumbuhkan cinta untukmu.
terkadang Mencintai itu mudah, tapi
melupakan cinta sungguh sulit.
bahkan walaupun dia telah bersama orang lain, tidak dipungkiri kadang hatinya masih terpaut untukmu, sungguh itulah perhiasan terindah yang tak seharusnya disia-siakan.
(Baim Lc, Lengkok 131214)


Rabu, 30 Desember 2015

Gerakan Perpustakan Anak Nusantara : Mengabdi Dari Hati Untuk Indonesia Berbudaya


Salah satu staf Pengajar Di UGM yang pernah mendapat kesempatan untuk belajar di daratan Eropa pernah bercerita kepada kami, bahwa orang-orang Barat itu hebat dalam segala hal bukan karena mereka lebih pintar dari segi intelektualitas, akan tetapi mereka lebih rajin dalam segala hal, salah satunya lebih diporsir waktunya untuk membaca. Dengan kebiasaan membaca secara tidak langsung wawasan dan ide kreatif itu lebih mudah dikembangkan karena referensi yang pernah mereka telan cukup banyak.

Membaca merupakan proses vital dalam membangun intelektualitas dan pengembangan wawasan kita, maka sudah seharusnya perintah membaca yang diturunkan Tuhan sebagai ayat pertama dalam Al Qur'an kita jadikan sebagai intervensi untuk meningkatkan hal tersebut, dengan membaca kita mengetahui hal-hal baru dalam kehidupan yang dapat memperluas wawasan, di samping itu membaca merupakan proses menuntut ilmu secara autodidak melalui buku.

Beranjak dari keprihatinan kurangnya minat baca generasi muda kita, membuat salah seorang kawan (Imam Arifa'illah) tergerak untuk membentuk sebuah gerakan perubahan demi terwujudnya generasi muda yang peka terhadap minat baca. Alumni Pendidikan Geografi Universitas Negeri Malang ini pun mulai menggagas sebuah gerakan yang dinamakan "Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara" (GPAN) yang pertama kali bergerak di bidang penyedia bahan bacaan untuk anak-anak desa dan memberikan bimbingan belajar yang dimulai di Lamongan, Malang tempat tinggal kawan tersebut. Buku-buku yang disediakan oleh Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara berasal dari sumbangan kawan-kawannya yang peduli akan gerakan perubahan untuk generasi muda kita, di samping sebagai penyedia bahan bacaan untuk membudayakan Membaca, GPAN Malang ini pun mulai membentuk Tim dengan beberapa program yang dicanangkan, seperti bimbingan belajar intensif untuk anak-anak desa di Lamongan, Perpustakaan desa, Kunjungan ke beberapa daerah terpencil untuk berbagi inspirasi dan lain-lainnya.

Untuk melebarkan sayap perjuangan dan Pengabdian melalui Gerakan Perpustakan Anak Nusantara ini, sang penggagas mulai membidik ke kota besar yang terkenal dengan Kota pendidikan, Yogyakarta. Sang Penggagas yang juga sebagai penerima Beasiswa Magister dari LPDP dan sedang menjalani Program pengayaan dari penyedia Beasiswa di UGM, mulai membangun koordinasi dengan mengajak penerima beasiswa (Awardee) lainnya agar ikut terlibat dalam pengabdian ini. Maka dibentuklah "Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara Regional Yogyakarta" dengan berorientasi pada semangat pengabdian untuk bersama-sama membangun intelektualitas generasi bangsa, sederhananya untuk membudayakan Membaca melalui program-program yang akan digagas lebih lanjut.

GPAN Regional Yogyakarta ini masih dalam tahap merangkak, dan sangat membutuhkan dukungan bagi yang ingin ikut terlibat dalam gerakan pengabdian ini. GPAN Regional Yogyakarta ini membuka kesempatan seluas-luasnya bagi semua pihak yang mempunyai komitmen dan keikhlasan untuk mengabdi membangun bangsa, beberapa divisi yang telah disepakati masih membutuhkan Tim yang bersedia untuk ambil peran dalam pengabdian ini. GPAN di samping sebagai wadah pengabdian juga sebagai wadah silaturahmi untuk membahas Tips-tips meraih Beasiswa, karena rata-rata anggota yang terlibat di dalamnya merupakan Awardee/penerima beasiswa seperti Bidik Misi dan LPDP. Selain itu juga sebagai wadah untuk berbagi Inspirasi agar semakin banyak menularkan motivasi dan semangat untuk mengabdi, walaupun itu melalui hal sederhana namun bermanfaat, sekalipun itu hanya untuk diri sendiri, lebih-lebih bermanfaat untuk orang lain.
Untuk itu bagi yang ingin berkontribusi dalam pengabdian ini dapat mengajukan diri melalui borang Rekrutmen yang disediakan atau menghubungi kontak di bawah ini.
Salam Pengabdian, untuk Indonesia lebih mendunia.

Borang Rekrutmen : goo.gl/VSlOmh
email : gpanregionaljogja@gmail.com
Instagram : @gpanjogja
Facebook : Gpan Jogja
CP/WA : 085733438854 (Imam)
085853329449 (Retno)

Jumat, 18 Desember 2015

Kejujuran, Modal Sosial Yang Sangat Berharga Saat Ini




Selepas shalat Ashar di Masjid samping RS. Sardjito UGM, di halaman masjid terlihat seorang bapak tua bertopi hampir menutupi sebagian mukanya, duduk dengan beberapa tumpuk keset di depannya. Salah seorang Jamaah yang baru selesai shalat menghampirinya, menanyakan harga keset tersebut. Jamaah itu rupanya jadi membeli sebuah keset dari bapak Tua tadi. Ketika akan membayar, jamaah tadi mengeluarkan lembaran 50 ribuan dari dompetnya.

" Ini bayarnya pak". Ucap jamaah tadi sambil menyodorkan ke tangan bapak tua tersebut.
" Kembali pak ya?". Jawab bapak tua itu seolah ragu untuk mengambil uang tersebut dan membuat saya kebingungan kenapa dia bertanya seperti itu kepada pembeli. Lantas dijawab oleh jamaah tadi dengan mengiyakan saja.

"Tadi Lima Puluhan itu pak, oh ya ada plastiknya tidak pak untuk bungkusnya?". Jamaah (pembeli) tersebut meminta plastik, namun sepertinya tidak didengar oleh bapak tua tadi. Dia sibuk meraba kantong bajunya untuk mengambil kembalian untuk pembeli. Tak sengaja dari kantong baju sebelah kiri dia mengeluarkan lembaran 100 ribuan.

" Itu 100 ribuan pak". jamaah tadi mengingatkan, barulah saya sadar ternyata bapak tua penjual keset tersebut tidak bisa melihat. Uang tersebut kembali dimasukkan ke dalam kantong sebelah kiri bajunya, lalu kembali meraba kantong baju sebelah kanan. Ketika bapak tua tadi mengeluarkan lembaran dari kantong bajunya, sang pembeli yang menyebutkan nominal uang yang diraba tersebut. Dan itu berulang hampir sampai 5 kali, barulah sang pembeli mendapatkan uang yang pas untuk kembaliannya. Harga 1 keset yang dijual 10 ribu saja.

Sungguh perjuangan yang luar biasa bagi bapak Tua dengan langkah meraba-raba, namun masih sanggup berjuang mencari nafkah dengan berjualan keset. Dia sama sekali tidak khawatir akan salah memberi uang kembalian kepada pembeli, karena sangat percaya bahwa rizki Tuhan terhampar luas bagi yang berusaha. Rizki itu pun dicari melalui berjualan keset oleh bapak Tua tersebut, karena dia yakin itu yang mampu dia lakukan. Istiqomahnya walaupun tidak terlalu banyak untung menjadikan saya seolah merasa kecil, lemah, tidak ada artinya dibanding bapak tadi. Begitu keras perjuangan seorang laki-laki untuk keluarganya, meski dalam keadaan seperti itu, tanggung jawab yang dia emban memintanya untuk terjun ke jalanan dengan Setumpuk keset yang dia jinjing.

Setelah meletakkan dagangannya di tangga masjid, dia pun meraba-raba kembali tembok masjid menuju tempat Wudhu. Sepertinya dia sudah mengenal area masjid tersebut, Beruntungnya juga salah seorang jamaah yang baru selesai wudhu menuntunnya ke tempat wudhu dan membukakannya kran air. Sungguh pelajaran yang luar biasa sore ini.

Sekembali dari Masjid, di tengah perjalanan menuju Kos salah seorang teman, kami menemukan sepeda tergeletak dengan beberapa bungkusan plastik putih. Sementara kami berhenti memperhatikan sepeda tergeletak tersebut, Ada bapak-bapak menghampiri sambil berucap " Kalau mau ambil dek", kami masih terdiam. Bapak tersebut membangunkan sepedanya yang tergeletak, sementara kami membantu mengangkat bungkusan besar tersebut ke atas sepeda, isinya ternyata Rambutan. Ada satu bungkusan yang sobek dan banyak terjatuh isinya, salah seorang teman mengangkatnya ke keranjang sepeda sementara isinya yang tergeletak diminta kami untuk mengambilnya saja. Bapak tadi menawarkan lagi agar kami mengambil Rambutan dari plastik yang telah diangkat sebagai tambahan. Namun kami mengatakan sudah cukup, karena memang rambutan yang tergeletak di jalan tadi sudah cukup banyak, jika diperkirakan hampir mencapai 2 kiloan.

Niat saya untuk dapat mencicipi Rambutan akhirnya tercapai juga, karena setiap berangkat ke kampus biasanya hanya bisa melihat Rambutan yang memerah menggoda tersebut di halaman rumah warga. Bahkan ketika selesai makan siang tadi kami melintasi rumah warga yang buah rambutannya cukup lebat dan dahannya sudah lewat dari halamannya, menjulur ke jalanan. Kalau di kampung, jika ada Pepohonan yang dahannya menjulur ke luar jalan melewati halaman Rumah pemiliknya, berarti buah di dahan yang menjulur ke Jalanan tersebut bisa diambil oleh umum, dan pemiliknya tidak boleh memarahi orang yang mengambil (seharusnya).
Selalu ada pelajaran berharga di tiap kesempatan, bukankah orang yang berpikir itu selalu bisa melihat sesuatu dari sisi kebaikan, dan itulah sebaik-baik prasangka yang akan mendatangkan kebaikan pula, baik yang akan didapatkan secara langsung atau ditangguhkan dan akan kita dapatkan tanpa disangka-sangka. Marilah tetap menebar kebaikan sekecil apapun itu.

Tepung Paleng, Kue Brownies Zaman Dulu di Kampung.




Di sela-sela istirahat jam pertama pengayaan di UGM, Peserta biasanya ramai memadati sekitar Dispenser yang hanya 1 disediakan di antara 3 kelas pengayaan tersebut. Jam istirahat pertama diselingi dengan minum kopi atau teh yang juga disediakan pengelola pengayaan, maka tak heran di antara sekian banyak peserta yang membutuhkan air panas untuk membuat kopi atau teh ada yang tidak kebagian dan harus menunggu supaya air yang di dispenser tersebut panas dulu. Secara tidak sengaja salah seorang kawan dari sulawesi yang tidak mendapat air panas untuk membuat kopi, padahal gula dan kopi sudah diisi pada gelas, akhirnya berinisiatif untuk menambahkan sedikit air ke dalam gelasnya lalu mengaduk gula dan kopi tersebut menjadi adonan dan berwarna coklat seperti kue brownies.

Melihat adonan kopi dan gula tersebut imajinasi saya melayang ke waktu kecil (sekitar tahun 1996), masa-masa indah kami menunggu adonan kopi tersebut menjadi senikmat brownies yang dinikmati anak-anak masa sekarang. Kebiasaan minum kopi di kampung, entah itu bagi pekerja kantoran, petani, buruh dan lainnya mengharuskan ibu rumah tangga menyediakan kopi di rumah masing-masing jika sewaktu-waktu ada pula keluarga yang bertamu. Waktu dulu, Menyajikan segelas kopi lebih sederhana dari pada menyajikan teh, karena membuat teh harus menggunakan penyaring dengan daun teh yang telah diiris kecil-kecil di atasnya, lalu dituangkan air panas, tidak seperti sekarang yang sudah beredar teh celup, atau teh cair.

Ibu-ibu rumah tangga yng menyediakan kopi hitam bubuk, biasanya mengolah sendiri biji kopi yang dibeli, walaupun di kampung saya masyarakatnya rata-rata penikmat kopi, jarang yang berinisiatif untuk menanam pohon kopi di sekitar pekarangan, di sawah atau ladang mereka. Proses membuat kopi hitam bubuk ini melalui beberapa tahapan, biji kopi terlebih dahulu dijemur sehingga keringnya benar-benar merata. Selain biji kopi, campuran untuk membuat kopi bubuk hitam ala kampung saya yaitu beras dan irisan kelapa. Beras direndam terlebih dahulu supaya menjadi lembek, perbandingan beras dan kopi diperkirakan secukupnya saja. Jika biji kopi setengah kilo, maka berasnya seperempat kilo, atau seperempat kilo beras dalam istilah orang kampung disebut " Sekobokan", diukur dengan nampan seukuran lebar telapak tangan.

setelah beras yang direndam dirasa tidak terlalu keras, barulah ditiriskan dan dicampur dengan biji kopi dan irisan kelapa sebagai pengharum, Campuran tersebut siap untuk digoreng, tidak menggunakan minyak goreng dan harus menggunakan wajan yang terbuat dari tanah liat. Pengaduknya berbentuk sendok dari kayu dan bagian adukannya dari batok kelapa. Proses menggoreng kopi ini membutuhkan waktu sekitar 30-40 menit dan membutuhkan ketelitian agar semua bahan campuran tadi matangnya merata ditandai dengan kehitamannya dan mulai menebarkan semerbak khas bau kopi. Setelah itu didinginkan terlebih dahulu supaya kadar campurannya menyatu.

Proses selanjutnya yaitu menumbuk campuran yang telah digoreng tadi menggunakan Lisong (wadah dari kayu berbentuk lonjong di bagian tengahnya terdapt ruang untuk menumbuk), karena memang dulu belum ada mesin penggiling seperti sekarang. Lisong itulah sebagai penggiling untuk berbagai keperluan waktu dulu, seperti menumbuk beras supaya menjadi tepung, menumbuk bumbu masakan dalam jumlah besar pada acara hajatan (Begawe). Pada proses penumbukan campuran kopi yang telah digoreng inilah wangi khas kopi mulai menebar, mengundang kami yang masih kecil biasanya berkumpul mengelilingi lisong tersebut dan secara bergantian menumbuk campuran tadi, walau hanya sekedar tumbukan 2 atau 3 kali.

Pada proses penumbukan untuk mendapatkan bubuk kopi hitam harus benar-benar lembut,  sehingga kopi yang dihasilkan ketika diseduh (dibuat) tidak banyak ampas yang mengapung. Lalu Yang kami tunggu dari proses penumbukan kopi tersebut, biasanya di dasar lisong kayu ada kerak sisa tumbukan yang masih melekat dan tidak sehalus bubuk kopi yang telah dikorek. Kerak sisa tumbukan itulah oleh orang Sasak dinamakan Tepung Paleng, berasal dari kata "tepung" yaitu "tepung/sesuatu yang sudah dihaluskan" dan " Paleng" yang secara gramatikal makna yaitu "pingsan". Jadi Tepung paleng secara keseluruhan maknanya bukan tepung yang pingsan, tetap sisa dari tumbukan kopi tadi.

Selanjutnya kerak sisa tersebut diungkit terlebih dahulu dari dasar lisong, walupun berbentuk lembut tetapi karena berada dibawah sehingga mengendap dan hampir padat. Sisa kerak atau tepung paleng ini dicampur dengan gula pasir lalu diaduk seperti membuat adonan kue, bentuknya persis seperti kue brownies yang kita temukan sekarang, bedanya brownies dari biji coklat sedangkan tepung paleng dari biji kopi. Barulah dibagikan kepada anak-anak kecil yang mengelilingi lisong tadi walaupun sama-sama sedikit yang penting harus semua kebagian. Makanan khas seperti itu jarang kami nikmati karena tidak setiap hari ada warga yang menumbuk kopi. Masa-masa itu mengingatkan betapa nilai kekeluargaan masih sangat erat digenggam, karena biasanya setelah kopi bubuk didapatkan, warga yang menumbuk kopi tadi membagikan hasil tumbukan tadi walau hanya segelas bubuk kopi hitam kepada tetangganya.


Sekarang tidak ada lagi kita temukan orang yang menumbuk kopi, karena mesin penggiling yang cukup banyak beredar dan dijadikan usaha penggilingan. Rata-rata warga juga lebih memilih menggunakan mesin penggiling agar bubuk kopi cepat jadi, di samping itu tidak semua memiliki lisong. Artinya jika akan menumbuk kopi mereka harus meminjam pada tetangga yang punya. Bahkan sekarang lisong kayu entah ke mana perginya, dahulu di rumah masih tersimpan satu, namun karena sering terkena hujan akhirnya mulai retak dan dalamnya tidak cukup bersih, lalu berakhir menjadi kayu bakar. Warga yang mengadakan hajatan mulanya menumbuk bumbu menggunakan lisong kini beralih ke mesin penggiling, Blender, hasilnya memang lebih lembut serta lebih cepat.

Jika menilik dari segi aroma, memang kopi hasil tumbukan jauh lebih beraroma dari pada hasil gilingan. Tingkat penyusutan bahan campuran kopi ketika digiling juga lebih besar dari pada ditumbuk. Namun kepraktisan menggunakan mesin penggiling tidak bisa lagi dibantah, padahal bagi penikmat kopi, menumbuk menggunakan lisong secara tidak langsung berolahraga. Pantas saja orang-orang dulu sehat-sehat karena semua dilakukan mengunakan kemampuan mereka, tanpa campur tangan mesin.

Setidaknya kenangan indah itu pernah kami alami, masa-masa di mana kopi menjadi minuman praktis yang orang-orang tua kami selalu nikmati. Bahkan saat sarapan, waktu kecil kopi bisa menjadi kuah untuk nasi, walaupun terasa manis, lidah kecil kami cukup menikmatinya. Satu lagi hal yang selalu kami nantikan, ketika ada acara hajatan (begawe) selalu disediakan makanan khas, Renggi yang terbuat dari ketan dibentuk menjadi bulatan lalu dijemur, setelah kering barulah digoreng. Makanan khas ini bisa dikatakan tidak pisah dari kopi ketika ada acara begawe. Nikmatnya juga ketika renggi dicelupkan ke kopi menambah ciri khas kopi sajian kopi sebagai tradisi orang begawe.

Sekarang hal tersebut jarang kita temukan, dan hanya menjadi cerita untuk generasi selanjutnya. Namun Kopi adalah bagian dari tradisi yang tak kan pudar dan terus dinikmati secara berkelanjutan.

Jalan Sunyi Si Pendidik

sumber :digaleri.com Baim Lc*  Dia tertegun, matanya tertuju pada amplop yang dibagikan oleh pihak komite tadi pagi. Nominal ya...